Blogger Widgets Ilmu Sosial untuk Psikologi : Filsafat Manusia, Sosiologi, dan Antropologi: April 2015

Sabtu, 25 April 2015

Pertemuan Keenam

Human Organizations : Groups, Families, Communities, Cities, and States

1.   Groups

Gambar 1 Groups

Definisi kelompok adalah sejumlah orang yang memiliki norma-norma yang sama, nilai-nilai, dan harapan yang berinteraksi secara teratur. Kelompok terbagi menjadi beberapa, antara lain  yaitu:
1. Primary Groups : kelompok kecil dengan intim, face-to-face asosiasi dan kerjasama
2. Secondary Groups : formal, kelompok-kelompok impersonal dengan sedikit keintiman   sosial atau saling pengertian.
3. Referensi kelompok: kelompok manapun bahwa individu digunakan sebagai standar untuk mengevaluasi perilaku mereka sendiri.
Dan ada 2 tipe dalam kelompok, yaitu :
1.    In-groups: kelompok atau kategori dimana seseorang merasa saling memiliki.
2.    Out-groups: kelompok atau kategori dimana seseorang merasa tidak saling memiliki.

2.   Families 

Gambar 2 Families

Keluarga adalah sekumpulan orang yang berhubungan dengan darah, perkawinan, atau lainnya yang disepakati hubungan, atau adopsi yang berbagi tanggung jawab utama untuk reproduksi dan merawat anggota masyarakat

1.  Nuclear Family: inti dimana kelompok keluarga besar dibangun.
2. Extended Family: keluarga yang tinggal dirumah bersama kerabat dengan orang tua dan anak-anak mereka.

Jenis-jenis dalam pernikahan, antara lain:
2.1 Poligami: ketika seorang individu memiliki beberapa suami atau istri secara bersamaan
2.2 Poligini: perkawinan seorang pria untuk lebih dari satu wanita pada suatu waktu
2.3 Poliandri: perkawinan seorang wanita untuk lebih dari satu suami pada saat yang sama

3.   Communities 

Gambar 3 Communities

Secara umum pengertian dari komunitas adalah perkumpulan dari beberapa orang untuk membentuk suatu organisasi yang memiliki kepentingan bersama.

3.1 Masyarakat awal
Masyarakat hortikultura menyebabkan perubahan dramatis dalam organisasi sosial manusia. Tidak diperlukan bergerak untuk mencari makan. Masyarakat stabil membantu mendirikan surplus makanan.
3.2  Urbanisasi
Urbanisasi meliputi: 
Pra-industri Kota
Hanya beberapa ribu orang yang tinggal dalam perbatasan mereka. Ditandai dengan sistem kelas yang relatif tertutup dan mobilitas sosial yang terbatas.

Industri dan Pascaindustri Kota :
-          industri kota : Lebih padat penduduk dan kompleks
-          Pascaindustri Kota : Keuangan global dan aliran informasi elektronik mendominasi perekonomian.
-          Urbanisme : relatif besar dan pemukiman permanen menyebabkan pola khas perilaku.


4.  Cities

Gambar 4 Cities

Pengertian kota menurut para ahli :
1.    Louis Wirth: Kota adalah pemukiman yang relatif besar, padat, dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.
2.    Max Weber: Kota adalah suatu tempat yang penghuninya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Ciri kota adalah adanya pasar sebagai benteng serta mempunyai sistem hukum tersendiri dan bersifat kosmopolitan.
3.    Ir. Sutami: Kota dipandang sebagai koldip (koleksi, distribusi, dan produksi). 


5.  States

Gambar 5 States

Sebuah negara adalah masyarakat dengan pemerintah pusat formal dan pembagian masyarakat kedalam kelas. Sebuah negara mengontrol wilayah pada daerah tertentu.

Pengertian negara menurut beberapa ahli, antara lain :
1.    Prof. Soenarko: Negara adalah organisasi masyarakat yang mempunyai daerah tertentu, dimana kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai souverien (kedaulatan). 
2.    O. Notohamidjojo: Negara adalah organisasi masyarakat yang bertujuan mengatur dan memelihara masyarakat tertentu dengan kekuasaannya. 
3.    Prof. R. Djoko Soetono, SH: Negara adalah organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada dibawah pemerintahan yang sama. 


Sumber :

Bahan Kuliah Binus Maya tentang Human Organizations : Groups, Families, Communities, Cities, and States. (Diunduh pada 11 April 2015).

Gambar 1            Groups

Gambar 2            Families

Gambar 3            Communities

Gambar 4            Cities

Gambar 5            States


Rabu, 15 April 2015

Pertemuan Ketujuh

Human Socialities : Socialization, Social Interaction, and Social Mobility

     1.     Socialization
1.1              Peran Sosialisasi
Pengaruh Keturunan
• Studi Identik Kembar
Tes Kecerdasan menunjukkan bahwa skor akan sama ketika anak kembar dibesarkan secara terpisah dalm pengaturan sosial yang mirip, dan skor sangat berbeda ketika kembar dibersarkan terpisah dalam pengaturan sosial secara dramatis berbeda.

1.2              The self and Socialization
Pendekatan Sosiologi Diri
• Goffman : Pendekatan Diri
Manajemen kesan : individu belajar mempresentasikan diri untuk membuat penampilan khas dan memuaskan penonton tertentu.
• Freud
Diri adalah produk sosial. Kepribadian dipengaruhi oleh orang tua (terutama orang tua)
• Piaget
Menekankan tahapan manusia maju sebagai berkembangnya diri seseorang. Teori kognitif pembangunan mengidentifikasi 4 tahap dalam perkembangan proses berfikir anak-anak.

1.3              Socialization and The Life Course
The Life Course
• Ritus of Passage : Sarana mendramatisir dan mamvalidasi perubahan status seseorang.
Anticipatory Socialization and Resocialization
-          Anticipatory Socialization : Proses sosialisasi dimana seseorang “berlatih” pekerjaan masa depan dan hubungan sosial.
-          Resocialization : proses membuang pola perilaku lama dan menerima yang baru sebagai transisi dalam kehidupan seseorang.
-          Total Intitution : Lembaga penjara, militer, rumah sakit jiwa, atau biara yang mengatur semua aspek kehidupan seseorang.

     2.     Social Interaction
2.1              Social Interaction and Reality
Tanggapan seseorang pada perilaku seseorang didasarkan pada tindakannya. Kemampuan untuk mendefinisikan realitas sosial mencerminkan kekuatan kelompok dalam masyarakat.

2.2              Elements of Social Structure
Status
Status : mengacu pada salah satu posisi yang mendefinisikan secara sosial dalam suatu masyarakat.
Ascribed and Achieved Status
-          Ascribed Status : Status yang didapatkan dari lahir.
-          Achieved Status : Status yang didapatkan setelah menjalani kehidupan.

Social Roles
Kumpulan dari harapan orang-orang yang menempati status yang diberikan.
-          Role Conflict
Terjadi ketika harapan tidak sesuai yang muncul dari dua atau lebih posisi sosial yang diselenggarakan oleh orang yang sama.
-          Role Strain
Kesulitan yang muncul ketika posisi sosial yang sama memaksakan tuntutan dan harapan yang saling bertentangan.
-          Role Exit
Proses pelepasan dari peran yang merupakan pusat identitas seseorang untuk membangun peran yang baru

2.3              Social Policy and Social Structure
The AIDS Crisis
Meskipun ada terapi baru yang dikembangkan untuk mendorong dalam mengobati AIDS, namun saat ini belum ada cara untuk memberantas AIDS secara medis. Diperkirakan ada 39.400.000 orang yang terinfeksi dengan AIDS.

     3.     Stratification and Social Mobility in the US
3.1              Social Mobility
Social Mobility : Gerakan individu atau kelompok dari satu posisi dalam sistem stratifikasi masyarakat yang lain.

Open vs Closed Stratification Systems
-          Open Systems : Posisi setiap individu dipengaruhi oleh posisi yang dicapai seseorang.
-          Closed Systems : Memungkinkan sedikit atau tidak sama sekali untuk bergerak naik.

Types of Social Mobility
-          Horizontal Mobility : Gerakan dalam kisaran prestise yang sama
-          Vertical Mobility : Perpindahan dari satu posisi ke posisi yang lain atau dari peringkat yang berbeda.
-          Integrational Mobility : Perubahan posisi sosial dalam kehidupan dewasa seseorang.

3.2              Social Policy and Stratification
Goverment and Poverty

Terjadi pergeseran dalam program kesejahteraan AS pada tahun 1996. Sebagian besar negara mencurahkan proporsi yang lebih tinggi dari pengeluaran untuk perumahan, jaminan sosial, kesejahteraan, dan kesehatan.


Sumber :

Bahan Kuliah Binus Maya tentang Human Socialities : Socialization, Social Interaction, and Social Mobility. (Diunduh pada 16 April 2015)

Senin, 13 April 2015

Seminar GSLC Pertama

Perspektif Sosiologi dan Perspektif Ilmu-ilmu Sosial

Perspektif Sosiologi

Perspektif ini awalnya tumbuh dan berkembang didalam konteks 2 transformasi sosial yang revolusioner di Eropa. Dimana terdapat 2 revolusi yaitu :
-        Revolusi Industri yang terjadi pada abad ke-18 dan ke-19
-     Revolusi Perancis yang terjadi pada 1789 yang merupakan salah satu dampak   dari Proses Pencerahan (Enlightment) yang telah dimulai sebelumnya.

Positivisme dan Evolusi Sosial


Gambar 1        Auguste Comte (Neversaysgiveup.blogspot.com)

Pemikiran tentang positivisme dimulai oleh Auguste Comte. Beliau merupakan seorang filsof dan ilmuwan sosial pertama yang memberikan istilah sosiologi pada ilmu mengenai masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Menurut Comte, positivisme atau yang disebut pendekatan positivis merupakan pendekatan yang berdasarkan prinsip pengamatan langsung yang dapat dijelaskan oleh pernyataan-pernyataan teoritis untuk membuat generalisasi dari proses sebab-akibat yang terjadi pada masyarakat.
            Comte juga berpendapat bahwa tugas sosiologi adalah untuk mendapatkan pengetahuan mengenai dunia sosial yang dapat diandalkan sehingga dapat memberikan prediksi. Namun, pemikiran positivis Comte adalah sulit untuk membuat sosiologi menjadi ilmu yang prediktif karena kehidupan pada masyarakat akan selalu berubah dari waktu ke waktu.
Pengaruh pemikiran Positivis Comte pada Evolusi Sosial adalah Hukum 3 Tahap yaitu :
-          Tahap Teologis
Yaitu dimana semua ditentukan dan dikaitkan dengan Tuhan atau agama.
-          Tahap Metafisik
Yaitu ketika gejala sosial dikaitkan dengan metafisik
-          Tahap Positif
Yaitu menggunakan penjelasan rasional atau masuk akal.

Evolusi Sosial menurut Herbert Spencer adalah serupa seperti proses evolusi biologis. Maka masyarakat mengalami proses evolusi melalui diferensiasi struktural dan adaptasi fungsional.


Gambar 2        Karl Marx (Commons.wikimedia.org)                                       

Karl Marx membahas mengenai Revolusi Kapitalis. Karl Marx merupakan seorang filosof sosial dan seorang Yahudi Jerman namun lama menetap di Inggris. Pendekatan perspektif teoritid Marx  adalah Materialis mengenai Sejarah. Ia mengatakan bahwa manusia bukan berubah karena evolusi namun harus secara revolusioner sehingga masyarakat dapat hidup tanpa adanya perbedaan kelas (kelas atas atau kelas bawah).
Beberapa tahap perkembangan masyarakat antara lain, Tahap Komunisme Primitif, Tahap Feodalisme, Tahap Kapitalis, dan Tahap Komunisme. Salah satu kritik adalah bagaimana membuktikan perspektif teoritis Marx ini secara empiris.


   Gambar 3        Emile Durkheim (En.wikipedia.org)

Emile Durkheim membahas tentang Level Sosial dari Realitas. Ia mengatakan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari Fakta Sosial dan salah satu Fakta Sosial adalah Solidaritas Mekanis dan Solidaritas Organis. Dan ia mengatakan ada 3 tipe seseorang melakukan bunuh diri yaitu :
-        Anomik
Ini adalah perilaku bunuh diri yang disebabkan oleh kondisi masyarakat yang anarkis
-        Altuiristik
Perilaku bunuh diri yang disebabkan karena sangat tergantung dan mengikuti pada nilai dan norma yang dominan dalam masyarakat.
-        Egoistik
Bunuh diri ini disebabkan oleh kepentingan dan alasan pribadi.


Struktural Fungsionalisme
Parsons mengemukakan pemikirannya mengenai bagaimana Tatanan Sosial dapat dipertahankan dan terus berkembang melalui skema A-G-I-L
     A : Adaptation
     G : Goal Attaintment
      I : Integration
      L : Latency

Max Weber membahas mengenai Kapitalisme dan Agama. Ia memiliki pendapat bahwa tingkat ekonomi seseorang ada kaitannya dengan tingkat ketaatan pada agama yang dianut, semakin patuh seseorang pada agamanya maka semakin sukses pula orang tersebut dalam ekonominya.

Interaksionisme Simbolik
Interaksi ini memfokuskan perhatian pada berbagai interaksi sosial didalam konteks tataran mikro dan bagaimana makna dikonstruksikan dan ditransmisikan diantara para anggota masyarakat. Pemikir utama Interaksionisme Simbolik adalah George Herbert dan Erving Goffman.

Sabtu, 04 April 2015

Pertemuan Kelima

Knowledge, Intelligence, Affection, and Freedom

     1.     Knowledge ( Pengetahuan)
1.1           Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana, di depan subjek, yang dapat dijangkau oleh pandangan dan oleh tangan manusia.
1.2           Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indrawi luar kalau orang mencapainya secara langsung. Sedangkan Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayalan.
1.3           Pengetahuan seterusnya disebut perseptif, ketika sambil muncul secara spontan. Dan Ada juga yang disebut pengetahuan refleksif, ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga.
1.4           Pengetahuan itu adalah induktif, bila menarik yang universal dari yang individual, dan sebaliknya deduktif, bila menarik yang individual dari yang universal.
1.5           Meskipun pengetahuan menyerupai kesadaran namun tidak ada persesuaian yang sempurna antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas menjadi kurang lebih dinyatakan.

2.  Intelligence ( Pengertian)
2.1           Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam.
2.2           Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi, dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan, konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi.
2.3           Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi, inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak.
2.4           Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif.
2.5           Tahap pengetahuan yang semakin kompleks lagi adalah kegiatan bernalar yang bersifat diskursif. Istilah diskursif dari kata di-curres artinya berlari ke berbagai arah melalui induksi, deduksi, refleksi, subjektif-objektif, dan sebagainya (Leahy, 1993: 132).

3.       Affection ( Afektivitas)
3.1           Cipta (kognisi), karsa (konasi), rasa (afeksi), itulah trias-dinamika manusia, atau manusia sebagai trias-dinamika.
3.2           Di samping pengetahuan, afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya.
3.3           Afektivitas tidak sama dengan pengetahuan, namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan.
3.4           Afektivitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera, kecenderungan. atau apa yang jasmaniah saja. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia.
3.5           Jadi, untuk mencapai afektivitas, subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah :
-          Pertama, antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada afektivitas.
-          Kedua, nilai (baik dan buruk)
-          Ketiga, sifat dasariah dan kecenderungan kognitif.
-          Keempat, mengenal adalah kausa dari afektivitas.
-          Kelima, imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi bahkan membohongi.

4.       Freedom ( Kebebasan)
4.1           Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah, namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengaktualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini.
4.2           Seorang manusia disebut bebas kalau perbuatannya tidak mungkin dapat dipaksakan atau ditentukan dari luar. Manusia yang bebas adalah manusia yang memiliki secara sendiri perbuatan-perbuatannya. Kebebasan adalah suatu kondisi tiadanya paksaan pada aktivitas yang dikerjakan oleh seseorang.
4.3           “Freedom is self-determination”. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda.
4.4           Secara ringkas Louis Leahy membedakan tiga macam atau bentuk kebebasan, yaitu :
-                 Kebebasan Fisik adalah ketiadaan paksaan fisik. Artinya adalah tidak adanya halangan atau rintangan-rintangan eksternal yang bersifat fisik atau material.
-                 Kebebasan Moral sebagai ketiadaan paksaan moral hukum atau kewajiban. Kebebasan moral tidak sama dengan kebebasan psikologis. Meskipun demikian antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat.
-                 Kebebasan Psikologis berarti ketiadaan paksaan secara psikologis. Orang dikatakan bebas secara psikologis jika ia mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya.  


Sumber :

Bahan Kuliah Binus Maya tentang Human Philosophical Reflection : Knowledge, Intelligence, Affection, and Freedom. ( Diunduh pada 3 April 2015).