Blogger Widgets Ilmu Sosial untuk Psikologi : Filsafat Manusia, Sosiologi, dan Antropologi: 2014

Minggu, 21 Desember 2014

Kompas, 20 Desember 2014


Menjaring Pelari Ultra Indonesia
Oleh: 

Hendra Wijaya 
♦ Lahir:  Lampung, 26 November 1966
♦ Pendidikan:  S-1 Institut Pertanian Bogor
♦ Pekerjaan:  
- Direktur (pemilik)  PT RajawaliMulia Perkasa (industri garmen)
- Hobi:  petualangan, lari trail, bersepeda, renang, basket 
♦ Organisasi:
- Ketua Harian Persatuan Bola Basket Indonesia Kota Bogor (2006-2008)
- Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia Kota Bogor (2010-2014)
- Co-Founder Trail Runners Indonesia
♦ Pengalaman Lomba:  Telah mengikuti 20 event internasional, antara lain:
- The North Face Ultra Trail Run (100 km), Singapura, 15 Oktober 2011
- Vibram Hongkong Ultra Trail Run (100 km), 18 Februari 2012
- Metaman,  sepeda (3.8 km)- renang (180 km)-lari (42 km), Bintan, 15 September 2012
- GNW Ultra Trail Run 174 km, Australia,  10-11 November 2012
- King of the Mountain (160 km), Filipina,  22-23 Februari 2012
- Trans Singapore Run 230 km, Singapura,  7-9 Juni 2013
- Bromo Tengger Semeru100 Ultra 170 km, Indonesia,   22-24 November
- Coast to Kosci Ultra Marathon 240 km,  Australia,  6 Desember 2013
- Carstensz Pyramid Summit (4.884 m), Papua,   April 2014
- Redfox Elbrus Race to Summit (5.642 m), Rusia,  7-11 Mei 2014
- Kilimanjaro Summit (5.895 mdpl) di Tanzania,  Afrika, 10 Juni 2014
♦ Race Organize (Pendiri),  antara 
lain:
- Mount Rinjani Ultra 52 km (MRU) 
- Bromo Tengger Semeru 100 Ultra (BTS100)
- MesaStila Challenge Ultra (MCU) 60 km
- Gede Pangrango 100 km (GP100)

Indonesia kini menjadi ladang perburuan pelari-pelari lintas alam (trail) dunia. Mereka berdatangan untuk menjajaki alam Indonesia yang indah dan menantang. Para pelari trail dan ultra-trail itu berkompetisi untuk mendapatkan poin demi poin yang mereka kumpulkan, yang akan menjadi tiket mereka ke event bergengsi Ultra-Trail du Mont-Blanc Swiss.
Di dalamnya ada nama Hendra Wijaya yang berperan besar untuk menghidupkan lari lintas alam-gunung ekstrem itu. Di antara para penggemar olahraga lari, Hendra menjadi bahan diskusi yang menakjubkan karena kiprahnya melakukan hal-hal yang tidak semua orang biasa bisa melakukannya.
Direktur dan pemilik sebuah perusahaan garmen itulah yang kini giat menjadi penyelenggara lari trail. Dia bersama Aki Niaki, rekan pelarinya dari Bandung, pertama kali memperkenalkan lari gunung Nusantara sejak tahun 2011.
Hendra adalah ”Hyperman” pertama Indonesia yang telah menyelesaikan kerasnya lomba 3,5 kali lebih dari kategori Ironman ataupun Metaman.
GP100 memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendapatkan poin pada kualifikasi Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB). UTMB adalah salah satu lomba lari trail marathon yang berlangsung satu tahun sekali di kawasan Alpen, melintasi Perancis, Italia, dan Swiss. Jarak yang ditempuh pada 2015 sekitar 170 kilometer, dengan total elevation gain sekitar 10.000 meter.
Perkenalan Hendra dengan olahraga lari trail bisa dibilang seperti ”sudah jalannya”. Penggemar olahraga basket itu cedera serius karena terjatuh dari sepeda gunung (montain bike) saat menjelajahi trek-trek menantang di Bogor.
”Setelah sembuh, saya tetap ingin menikmati alam. Untuk itu, lintasan yang biasa dipakai sepeda gunung saya jelajahi dengan lari,” kenangnya. Bekas jahitan tampak memanjang di kedua tangannya.
Kini Hendra hampir tak pernah absen mengikuti berbagai event ultra- trail internasional. Maret tahun depan, dia akan mengikuti lomba lari di Kutub Utara dalam event Likeys 6633 Ultra sejauh 350 mil (560 kilometer) di Kutub Utara. Lomba ini dianggap sebagai lombaultra-marathon dengan kategori terkeras, terdingin, dan angin terekstrem di Planet Bumi.
Untuk menjaga stamina dan kebugaran fisik, Hendra biasa berlatih di Kebun Raya Bogor dan mengelilingi kawasan seluas 87 hektar itu. Sesekali diselingi bersepeda dari rumahnya ke Cibodas dan melanjutkan dengan lari ke Gunung Gede.
Kiprahnya di dunia ultra-trail membuahkan hasil. Para pelari internasional kini menanti setiap lomba lari trail di Indonesia yang dia selenggarakan. Pemerintah daerah mulai menjadikan lomba trail menjadi agenda tahunan mereka. Pelari trail Indonesia pun mulai bermunculan, menampakkan prestasi.

            Semangat yang dimiliki oleh Bapak Hendra sangatlah pantas untuk dikagumi. Hobby nya berpetualang yang salah satunya adalah mendaki gunung tidak hanya dijadikannya sebagai hobby, kegiatan mendaki gunung ini tidak dilakukannya seperti pendaki gunung biasanya, ia mendaki gunung dengan berlari sehingga tidak salah orang memanggilnya sebagai “Hyperman”. Ia pun telah mengikuti berbagai jenis lomba dalam mendaki gunung ini dan Ia bersama temannya membuat acara lari trail yang membuat pelari trail Indonesia bermunculan  untuk menunjukkan prestasinya.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64

Minggu, 14 Desember 2014

Kompas, 13 Desember 2014

Menghidupkan Komik 
Indonesia

  Oleh: Susie Berindra   



Chris Lie
-          Lahir: Solo, 5 September 1974
-          Istri: Renie Setyadharma
-          Anak: Dante Nicholas Lie
-     Pendidikan:
- S-1 Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, 1997
- S-2 Savannah College of Art and Design, Savannah, AS, 2005
      -     Karier:
- Freelance Desainer Konsep, Ilustrator dan Komikus, 1999-2007
- Direktur Caravan Studio, 2008-kini
- Direktur re:ON Comics, 2013-kini
      -     Prestasi:
- Juara Pertama Jakarta International Art Festival, 2001
- Juara Kedua AXN-Asia Anime Action Strip Contest 2001
- Finalis Stan Lee Foundation, 2008
- Finalis International Young Creative Entrepreneur, 2008
- Peringkat ke-4 New York Times Manga Best Seller, 2009
Sejak kecil, Chris suka menggambar. Semua seri komik petualangan Tintin dilahapnya. Saat akan kuliah, dia mau memilih bidang seni rupa dan desain, tetapi orangtua membuatnya mengambil Jurusan Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung.
Chris ingin mengembangkan sayap ke tingkat internasional. Impian itu diraihnya dengan memenangi Jakarta International Art Festival 2001.
Untuk tugas magang kuliahnya, Chris melamar ke Devil’s Due Publishing (DDP), Chicago, Illinois, AS. Tak putus asa, Chris tetap menggambar komik meski DDP tak menghiraukan karyanya. Sampai suatu siang dia diminta membuat komik GI Joe seri baru. ”Saya diberi tahu pukul 13.00 dan harus selesai pukul 16.00. Hasilnya? Mereka suka,” ujarnya.
Komik karya Chris lainnya yang mendunia adalah Drafted One Hundred Days yang salah satu episodenya menampilkan Presiden Barack Obama dengan kostum tentara berwarna coklat dan sekop di tangan.
Kembali ke Indonesia, dia memegang beberapa proyek dari banyak pihak. Dia mengajak tiga teman bekerja sama mendirikan Caravan Studio pada 2008. Dari awalnya empat orang, kini Caravan Studio memiliki sekitar 30 komikus yang mengerjakan proyek dari berbagai perusahaan di AS, Jepang, Australia, dan Belanda. Selain komik, mereka juga mengerjakan desain karakter video game, mainan, dan card game.
Chris bercerita, pada 1980-2000, komik nasional tak terdengar gaungnya. Karya komikus Indonesia, seperti RA Kosasih, Teguh Santosa, dan Hans Jaladara, hilang di pasaran berganti dengan komik-komik impor. Alhasil, generasi muda lebih mengenal karakter komik impor.
Pada Juli 2013, Chris bersama Andik Prayogo dan Yudha Negara Nyoman membuat majalahre:ON Comics. Sambutan untuk seri komik yang terbit setiap enam minggu sekali ini amat bagus.
Nama-nama komikus yang mengisi majalah ini pun mulai dikenal masyarakat. Salah satuunya sebut saja Is Yuniarto dari Surabaya yang membuat The Grand Legend Ramayana. Cerita wayang dengan terjemahan bebas yang digambarkan lebih modern.
Chris berharap seri komik itu bisa dijual ke pasar internasional, selain mengirimkannya untuk festival komik internasional. Caravan Studio dan re:ON Comics menjadi salah satu tumpuan komikus Tanah Air.

                Memperkenalkan kembali komik-komik yang telah dibuat oleh orang-orang terdahulu agar generasi sekarang dapat memberi perhatiannya sangatlah dibutuhkan, karena kebanyakan generasi jaman sekarang lebih perduli dengan barang apapun itu yang berasal dari luar Indonesia. Saya juga kagum dengan sosok Bapak Chris ini karena walaupun telah mengalami kegagalan di berbagai situasi, ia masih ingin untuk berusaha mendapat dan menjadi apa yang memang telah menjadi hobinya sejak kecil. Dan akhirnya perjuangannya tidak sia-sia, ia dapat menghidupkan kembali para komikus Indonesia sehingga saya harap masyarakat dapat mendukung kegiatan yang dilakukannya.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64

Minggu, 07 Desember 2014

Kompas, 6 Desember 2014

Hidup Setelah Sepeda Fixie Mati Suri

Oleh: Wisnu Nugroho 


Hendi Rachmat
♦ Lahir: 6 Maret 1977
♦ Pendidikan: FISIP Universitas Nasional (tidak selesai)
♦ Pekerjaan: Founder dan Chief Operating Officer Westbike Messenger Services
Duenno Ludissa
♦ Lahir: 12 Agustus 1976
♦ Pendidikan:
 - Universitas Wiraswasta Indonesia (2009)- MBA Swiss German University (2013)u Pekerjaan: Co-Founder dan Chief Business Officer Westbike Messenger Services

Ada masanya ketika sepeda fixie (”fixed-gear bicycle”) meramaikan jalan-jalan di kota-kota di Indonesia. Pada masa itu, di setiap hari tanpa kendaraan (”car free day”), fixie warna-warni yang ditunggangi anak-anak muda, lelaki dan perempuan, menambah keceriaan di jalan-jalan raya. Banyak yang tumbuh di masa-masa itu, termasuk beragam jenis usaha terkait sepeda di awal tahun 2000. Namun, setelah masa keemasan itu berlalu, mereka yang tumbuh bersamaan dengan fixie bertumbangan satu per satu.
”Badai menjadi pemilah dan pemicu bagi kami untuk memikirkan menghidupi kegairahan kami pada sepeda fixie,” ujar Founder dan Chief Operating Officer Westbike Messenger Services (WMS) Hendi Rachmat (37) sebelum acara peluncuran program ”Bomb Your Commuter” di Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (5/12).
Karena badai itu, toko sepeda fixie Westbike yang didirikannya dan sempat maju akhirnya tutup. Sementara toko dan bengkel sepedanya tutup, Hendi mencoba belajar dari pengalaman komunitas fixie di negara lain. Didapati, komunitas fixie tetap tumbuh karena menjadi unit usaha pengantaran. Bersama seorang temannya, Jeje (22), Hendi lantas merintis bisnis pengantaran.
Duenno dan Hendi adalah sahabat lama. Kekerapan beraktivitas, bahkan tinggal di tempat kos yang sama, membuat komunikasi dan penerjemahan ide Hendi soal fixie mudah direalisasikan Duenno.
Atas usul Duenno, nama Westbike yang semula adalah nama toko sepeda fixie milik Hendi dipertahankan. Modal komunitas dan brand dijadikan pijakan langkah. Dua kata, yaitu ”messenger service”, lantas ditambahkan. Oktober 2013, WMS beroperasi dengan keinginan menghidupi gairah akan fixie dan menjawab persoalan Jakarta yang makin macet jalan rayanya dan polutif udaranya.
Salah satu ”pembunuh” pengantaran dengan sepeda adalah kendaraan bermotor. Namun, pembunuh yang memacetkan jalan raya itu pula yang membangkitkan sepeda untuk pengantaran. Rencana pembatasan sepeda motor di jalan-jalan protokol di Jakarta memberi napas tambahan bagi bisnis pengantaran dengan sepeda.
”Setahun berjalan, dengan terus memegang kepercayaan yang menjadi prinsip, kini ada 15 perusahaan dan tiga kedutaan besar negara sahabat yang menjadi pelanggan. Dari hanya memiliki satu messenger, kini kami punya 15 messenger yang hampir semuanya mahasiswa. Satu di antaranya perempuan dan baru seminggu ini bergabung,” papar Hendi.
Bersamaan dengan berkembangnya WMS, Hendi dan Duenno lantas menyewa empat los di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Di los yang diberi nama Cogs Collective itu, Hendi dan Duenno mengajak mereka yang masih memelihara gairah bersepeda fixie untuk bergabung, menghidupi, dan saling belajar tentang banyak hal.
 Kini, langkah Hendi dan Duenno memelihara gairah akan fixie sambil menjawab persoalan kemacetan dan polusi Jakarta dengan WMS mulai menggeliat dan berprospek.
Karena WMS, di beberapa kota, seperti Bali dan Bandung, yang problematikanya mirip Jakarta, bisnis pengantaran dengan basis sepeda fixie mulai muncul. Untuk kegairahan ini, upaya saling mendukung dilakukan. Mereka yang hidup lagi dari fixie setelah mati suri perlu dirayakan.

            Mehidupkan sesuatu yang sudah lama dilupakan oleh masyarakat adalah ide yang bagus. Seperti yang dilakukan oleh Duenno dan Hendi ini yang menghidupkan kembali fixie pada jaman sekarang. Memang di jaman ini saat poluso sudah sangat tidak terkontrol, dibutuhkan kesadaran manusia akan lingkungannya, tidak hanya ego saja yang dipikirkan karena jika kesadaran tidak muncul juga, maka Jakarta akan semakin panas akibat polusi dan juga macet. Sehingga menurut saya ide ini sangatlah bagus. Dengan ide ini, kedua sosok diatas tidak hanya mendapatkan uang, mereka juga mendapatkan kesehatan akibat kegiatan mereka tersebut.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64

Minggu, 30 November 2014

Kompas, 28 November 2014

Menggali Tambang Kreativitas dari Jember

Oleh: Susie Berindra 




Dynand Fariz
-         Lahir: Jember, 23 Mei 1963
-         Pendidikan:
- 1979-1984: Seni Rupa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya
- 1996-1999: Beasiswa  Program Combination di Sekolah Mode ESMOD, Jakarta
- 1999: Training Teacher di ESMOD Perancis
-         Karier
- 1985-sekarang: Dosen Program Tata Busana di Unesa, Surabaya
- 1999-sekarang: Pengajar  Pattern Drafting  ESMOD Jakarta 
- 2000-sekarang: Pendiri dan Presiden Jakarta Fashion Carnaval  
- 2006-sekarang: Anggota Indonesian Social Entrepreneur, Ashoka, Washington DC
-         Prestasi
- 1999: Best Costume & Unique Costume ESMOD St Chaterina Day
- 2007: Performing Art di Indonesian Reception Day, Mumbay, India
- 2008: Penghargaan Putra Terbaik Jember 
- 2011: Rancangan Dynand Fariz  meraih Best National Costume di Mr Universe Republik Dominika
- 2014: Rancangan Dynand Fariz meraih Best National Costume Miss International 2014 di Tokyo Jepang

               
Mata Fariz berkaca-kaca saat mendampingi Puteri Indonesia Lingkungan 2014 Elfin Pertiwi yang mengenakan rancangannya kembali dari Tokyo. Padahal, ini bukan kali pertama Fariz meraih prestasi di ajang internasional. Karyanya kerap menang di kontes pemilihan pria tingkat internasional.
Kostum Elfin berwarna emas itu terdiri dari siger (mahkota) dan tapis Lampung. Siger adalah mahkota khas Lampung yang dikenakan pengantin perempuan. Tapis warna merah memperindah penampilan.
Kecakapan dan prestasi ini diraih dengan penuh perjuangan. Nama pengajar Sekolah Mode ESMOD Jakarta ini dikenal luas karena Jember Fashion Carnaval (JFC) ciptaannya.
Setelah lulus dari Jurusan Seni Rupa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya, Fariz menjadi dosen di kampus yang sama. Beberapa tahun kemudian, Fariz memilih menjadi perancang busana dan mendapat beasiswa di Sekolah Mode ESMOD, Jakarta. Sebagai desainer, dia mendirikan Dynand Fariz Center yang membuat pergelaran busana setiap tahun.
Rintisan festival di Jember berasal dari keinginan Fariz membuat hal unik saat Lebaran. Dia mengajak keluarganya memakai kostum unik dengan satu tema untuk berkeliling ke rumah saudara-saudaranya.
Tahun 2002, dia menamakan acara keluarga itu Pekan Mode Dynand Fariz dan muncullah ide membuat JFC. Januari 2003, bersamaan dengan HUT Kota Jember, Fariz membuat pergelaran JFC pertama. Pada Agustus 2003, JFC 2 diselenggarakan dengan mengambil tema Arab, Maroko, India, Tiongkok, dan Jepang. Untuk tahun-tahun berikutnya, JFC rutin digelar pada Agustus.
Sayangnya, acara menarik yang dikemas seperti kemeriahan karnaval di Rio de Janeiro, Brasil, ditentang beberapa pihak, salah satunya DPRD Kota Jember yang mendesak Fariz menghentikan JFC.
Setiap tahun, JFC melibatkan 700 orang, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Mereka yang ingin berpartisipasi bisa mendaftar sebagai talent yang akan dilatih membuat konsep, merancang busana, merias diri, sampai berjalan di catwalk sepanjang 3,7 kilometer.
Di JFC ke-13 bertema ”Triangle”, Fariz melibatkan tujuh provinsi anggota WACI, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Bali. Tema ”Triangle” terbagi beberapa subtema, yaitu Mahabharata, Borobudur, Tambora, Phoenix, dan Wild Deer.
Sejak empat tahun lalu, Fariz mengusung kemeriahan karnaval khas Jember ini ke Jakarta. Akhir pekan ini, 29-30 November, masyarakat Jabodetabek bisa menyaksikan JFC di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam sehari, pertunjukan dalam ruangan ini akan digelar dua kali, pukul 14.00 dan 19.00.
Tahun depan, keinginan Fariz memeluk dunia lebih lama diwujudkan dengan JFC ke-14 yang terbagi tiga bagian, karnaval, pameran, dan konferensi internasional. JFC akan mengundang peserta dari seluruh dunia untuk berkarnaval.

                Kegiatan mengembangkan dan memperkenalkan  apa yang dimiliki Indonesia sehingga dapat dikenal lebih luas oleh negara lain sangatlah diperlukan. Seperti apa yang dilakukan oleh Pak Fariz ini. Dia dapat terkenal pada dunia mode/fashion ini dimulai dari ide-ide kecil namun ia dapat mengembangkannya dengan baik. Walaupun sempat ditentang kegiatannya, ia tidak mudah putus asa. Ia terus mencoba dan telah menanamkan didalam dirinya bahwa ia akan berhasil mencapai apa yang ia inginkan. Sifat tidak putus asa dan terus mencoba ini sangatlah patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia agar dapat mencapai apa yang diinginkan oleh pribadi masing-masing.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64



Sabtu, 22 November 2014

Kompas, 21 November 2014


Totalitas Melayani Pasien

Oleh: KORNELIS KEWA AMA 


Maria Yosephina Melinda Gampar
-         - Lahir: Kupang, 7 Agustus 1980
-        -  Pendidikan terakhir: Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta, 2006
-         - Penghargaan: Dokter teladan tingkat provinsi 2012
-         - Pekerjaan: Dokter pada Puskesmas Labuan Bajo

Sapaan yang manis, senyum, dan dukungan moril dari dokter amat membantu proses penyembuhan pasien yang sedang sakit. Amat pas jika predikat dokter teladan tingkat provinsi pun diraih dr Maria Yosephina Melinda Gampar (34) pada tahun 2012. Tidak aneh jika semua pasien yang pernah dilayaninya tidak melupakan keramahan yang diberikan saat pelayanan kesehatan.
Hubungan emosional antara dokter dan pasien dipahami benar oleh dr Melinda dalam tugas pelayanan setiap hari. Pasien yang datang ke puskesmas memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap sang dokter atau paramedis. Tidak mengherankan jika setiap petunjuk, nasihat, resep obat, dan pola hidup sehat yang disampaikan sang dokter ditaati oleh pasien sesuai kemampuan mereka.
Ketika hendak ditemui Kompas di Puskesmas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pertengahan bulan lalu, dr Melinda memilih waktu petang. Ia tidak ingin waktu untuk melayani pasien yang sedang rawat jalan jadi berkurang.
”Saya dipanggil menjadi dokter hanya karena ada orang sakit atau pasien. Tanpa mereka, tugas dan fungsi saya tidak bermakna sama sekali. Karena itu, pasien selalu saya prioritaskan dalam tugas dan pelayanan,” kata dr Melinda.  Ia juga mengatakan, pasien dari desa sangat ramah dan sopan terhadap dokter.
Status pegawai negeri sipil (PNS) baru disandang dr Melinda pada 2008. Ia sudah melalui masa kerja sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) yang berlangsung mulai tahun 2006 sampai 2008.
Untuk menuju Puskesmas Waenakeng yang memiliki dua dokter dan lima tenaga perawat ini, dr Melinda harus berkendaraan roda empat selama dua jam dari Labuan Bajo. Setiap hari, puskesmas ini melayani 30-100 pasien rawat jalan dan 5-10 pasien rawat inap.
Menurut dr Melinda, obat bukan segala-galanya yang bisa menyembuhkan pasien. Jika obat itu diberikan dengan penuh pelayanan, yakni dengan senyum, keramahan, keyakinan, dan ketulusan hati, pasien yang bersangkutan punya keyakinan untuk cepat sembuh.
Kondisi darurat sering diakrabi dr Melinda, misalnya ibu yang melahirkan pada malam hari. Apalagi jika di sekitar tempat tinggal sang ibu tidak ada tenaga medis, seperti bidan, ia juga harus mengunjungi pasien tersebut. Ia mengatakan, meski sudah bekerja maksimal, kasus kematian ibu melahirkan cukup tinggi, yakni 25 orang.
Ada juga pasien darurat yang baru tiba di puskesmas tengah malam dan pada saat itu listrik padam. Terpaksa dr Melinda memanfaatkan sumber penerangan seadanya, seperti senter, telepon genggam, lilin, atau lampu darurat yang tersedia.
”Saya sudah satu tahun bekerja di Puskesmas Labuan Bajo. Masalah utama yang dihadapi di Labuan Bajo adalah pasien yang datang dari pulau yang jauh. Kami harus prioritaskan pelayanan terhadap mereka agar mereka bisa pulang lebih awal ketika gelombang laut lebih tenang,” ujar dr Melinda.
Di Labuan Bajo atau Kecamatan Komodo, sebagian besar penduduk tinggal di pulau-pulau kecil. Meski sebuah rumah sakit sudah dibangun tahun 2012, kepala dinas kesehatan setempat tersandung masalah korupsi. Akibatnya, nasib rumah sakit itu pun terbengkalai sampai hari ini.
            Kegiatan seperti menyapa dengan senyum memang kegiatan yang terlihat sepele, namun sebenarnya ini sangatlah dibutuhkan. Menyapa dengan senyum inilah yang dijadikan kunci oleh dr Maria dalam melayani pasien-pasiennya, karena menurutnya hal yang dianggap sepele oleh orang lain ini sangatlah membantu saat ia melayani pasien-pasiennya sehingga mereka lebih memiliki keyakinan untuk sembuh. Kepala dinas kesehatan Labuan Bajo juga harus bertanggung jawab oleh rumah sakit yang telah terbengkalai akibat masalah korupsi, karena bagaimanapun rumah sakit sangatlah dibutuhkan dan berguna untuk masyarakat.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64