Blogger Widgets Ilmu Sosial untuk Psikologi : Filsafat Manusia, Sosiologi, dan Antropologi: Oktober 2014

Jumat, 31 Oktober 2014

Kompas, 30 Oktober 2014


Menyelamatkan ”Warisan” Anak-Cucu Sulawesi
Oleh: MOHAMAD FINAL DAENG 



Darmawan Denassa
- Lahir                   : Borongtala, 28 Juli 1976
- Istri                     : Alwiah Hasan (33)
- Anak                  :- Muhammad Fadil Denassa (10)
                                - Asyraf Muhammad Denassa (4)
- Pendidikan       :- SDN Center Rappokaleleng, 1983-1989
                                - SMPN 1 Bontonompo, 1989-1992
                                 - SMEA Negeri 1 Limbung, 1992-1995
                                 - Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, 1996-2002

“Tanaman adalah kehidupan” inilah kalimat yang menjadi motivasi bagi Darmawan Denassa (38), warga Kelurahan Tamallayang, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan untuk melestarikan tanaman. Bukan sekadar sumber ekonomi dan penjaga ekosistem, tanaman juga menjalin ikatan sosiologis dan kultural dengan manusia yang dihidupinya.
Saat puluhan jenis tanaman, termasuk tanaman endemis Sulawesi, makin menghilang dari bumi Sulawesi Selatan, Denassa tergerak untuk menyelamatkannya. Pada tahun 2007 dia mendirikan Rumah Hijau Denassa (RHD), kawasan konservasi dengan luas lahan 1 hektar yang sekaligus menjadi lokasi rumah tinggalnya. Hingga kini terdapat sekitar 450 jenis tanaman yang telah dilestarikan di RHD. RHD pun benar-benar menjadi rumah hijau yang rindang, sejuk, dan terbuka bagi siapa pun yang berkunjung tanpa dipungut biaya
”Tanaman-tanaman ini adalah warisan untuk anak-cucu kita. Sekarang kita masih bisa melihat dan menikmati manfaatnya berkat generasi pendahulu yang menjaganya untuk kita. Masa kita tidak mau berbuat yang sama untuk generasi penerus nanti?” ujarnya.
Denassa menanam dan melakukan pembibitan berbagai jenis tanaman endemis dan non-endemis Sulawesi, baik yang sudah langka maupun yang masih melimpah di Sulsel. Upaya Denassa untuk mengonservasi tanaman-tanaman endemis Sulawesi bermula dari kampung halamannya di Borongtala. Ia besar dalam suasana rimbun pepohonan dan berbagai tanaman yang tumbuh di lingkungan kampung yang berjarak 31 kilometer arah selatan Kota Makassar itu.
Selain urusan konservasi, Denassa juga membuka lebar-lebar pintu RHD bagi siapa pun yang mau belajar. Sejak 2011, dia mengadakan ”kelas komunitas” yang diselenggarakan gratis untuk anak-anak sekolah tingkat dasar hingga atas. RHD juga kerap dikunjungi mahasiswa, peneliti, serta lembaga dari dalam dan luar negeri untuk belajar dan berdiskusi soal berbagai hal.
Atas semua upayanya itu, Denassa sama sekali tak mengharapkan imbalan materi. Bahkan, dia setiap bulan harus mengeluarkan uang dari sakunya sendiri lebih kurang Rp 1 juta untuk membiayai operasional RHD. ”Saya percaya, melakukan kebaikan itu lebih berharga daripada harta benda apa pun,” ujarnya.

Kegiatan yang dilakukan oleh Darmawan Denassa sudah sangat langka untuk jaman kini. Hanya segelintir orang yang perduli dengan tanaman. Disaat semua orang sudah tidak perduli dengan tanaman sekitarnya dan menebang tanpa memikirkan apa akibatnya, ia malah tertarik untuk merawat bahkan mengembangkan tanaman yang ada disekitarnya. Memang dijaman sekarang, kegiatan seperti ini sangat diperlukan karena bumi yang sudah semakin panas ini sangat membutuhkan penghijauan, salah satunya dengan cara menanam kembali tanaman-tanaman. Selain itu tanaman juga dibutuhkan untuk anak cucu kita entah untuk bahan pendidikan ataupun untuk mendukung kehidupan di jaman yang akan datang.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64









Rabu, 29 Oktober 2014


DEFINISI DARI BERPIKIR KRITIS, LOGIKA, DAN KEKELIRUAN
( DEFINITION OF CRITICAL THINKING, LOGIC, AND FALLACIES)



A.     BERPIKIR KRITIS
Untuk mencapai sesuatu yang memuaskan, kita harus berpikir secara kritis tentang masalah tersebut. Mungkin “berpikir kritis” ini sudah sering disebut-sebut oleh semua kalangan di masyarakat. Tetapi marilah kita mengetahui lebih dalam apakah yang dimaksud oleh “berpikir kritis” ini.
                Sebelum mengenal pengertian berpikir kritis, alangkah lebih baik jika kita mengetahui apa arti berpikir. Berpikir adalah kegiatan mental untuk menarik sebuah kesimpulan.

Definisi dari berpikir kritis, banyak dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :
-          Pengertian berpikir kritis adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan. Berpikir kritis merupakan suatu keterampilan berpikir yang bermanfaat dalam banyak situasi kehidupan. (Ennis, 1996)
-          Huit (1998) seorang ahli psikologi kognitif mendefinisikan berpikir kritis sebagai kemampuan untuk menganalisis fakta, membangkitkan dan mengatur ide, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah.
-          Glazer (2001) berpendapat bahwa, berpikir kritis dalam matematika adalah kemampuan dan disposisi untuk melibatkan pengetahuan sebelumnya, penalaran matematis, dan strategi kognitif untuk menggeneralisasi, membuktikan atau mengevaluasi situasi matematis yang kurang dikenal dalam cara yang reflektif.
-          Menurut Sukmadinata (2004) berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberikan keyakinan, menganalisis asumsi, dan pencarian ilmiah.
-          Swart dan Perkin (Hassoubah, 2004) menyatakan bahwa berpikir kritis berarti mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian.

Dari definisi berpikir kritis dari para ahli diatas maka dapat disimpulkan
 tahapatahapan dalam berpikir kritis yaitu :

a) Menganalisis
Menganalisis adalah kemampuan memisahkan informasi ke dalam bagian-bagian yang perlu, mencari hubungan antara bagian-bagian, mampu melihat komponen-komponen, bagaimana komponen-komponen itu berhubungan dan terorganisasikan. Menganalisis meliputi : 
memisahkan informasi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci.


b) Mensintesis

Mensintesis adalah kemampuan bekerja dengan bagian-bagiannya, unsur-unsurnya, dan mampu menyusun menjadi suatu pola baru dan struktur. Kemampuan mensintesis menuntut siswa untuk menyatupadukan informasi yang diperolehnya sehingga menciptakan ide baru. Mensitesis meliputi : menggabungkan bagian-bagian informasi menjadi bentuk atau susunan yang baru.


c) Mengenal dan Memecahkan Masalah

Dalam tahap mengenal dan memecahkan masalah, menuntut siswa untuk memahami bacaan dengan kritis sehingga mampu menangkap pikiran pokok bacaan, dan mampu membuat pola dari sebuah konsep. Mengenal dan memecahkan masalah, meliputi : memahami bacaan dengan kritis, mengambil pikiran pokok bacaan, dan mampu membuat pola dari sebuah konsep.


d) Menyimpulkan
Menyimpulkan menuntut siswa agar mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada sebuah simpulan. Kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru. Menyimpulkan meliputi : mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai pada kesimpulan.


e) Mengevaluasi atau Menilai

Kemampuan mengevaluasi adalah kemampuan yang meliputi aspek-aspek sebelumnya. Dalam hal ini, siswa harus mampu membuat kriteria, menentukan kerasionalan atas jawaban yang diperolehnya sehingga mampu untuk menilai suatu argumen. Mengevaluasi atau menilai meliputi : membuat kriteria, menentukan kerasionalan jawaban, menilai suatu argumen dari kriteria tersebut.

               
Setiono (2007) juga mengungkapkan aktivitas-aktivitas dalam berpikir kritis sebagai berikut :

1) Memperhatikan detil secara menyeluruh

2) Identifikasi kecenderungan dan pola, seperti memetakan informasi, identifikasi kesamaan dan ketidaksamaan, dan lain-lain.

3) Mengulangi pengamatan untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan

4) Melihat informasi yang didapat dari berbagai sudut pandang

5) Memilih solusi-solusi yang lebih disukai secara obyektif

6) Mempertimbangkan dampak dan konsekuensi jangka panjang dari solusi yang dipilih.



 B.      LOGIKA
Ketika kita ingin pendapat yang kita kemukakan diterima oleh orang lain, kita harus
mengemukakan pendapat yang masuk logika atau dengan arti lain dapat dicerna oleh orang lain yang mendengarkan pendapat kita tersebut. Disini saya akan membahas tentang logika lebih dalam lagi.
                               
                Dalam arti luas, logika adalah suatu cabang ilmu yang mengkaji penurunn-penurunan kesimpulan yang sahih (valid,correct) dan yang tidak sahih (tidak valid, incorrect). Secara etimologis, logika berasal dari kata Yunani ‘logos’ yang berarti kata, ucapan, pikiran secara utuh atau bisa juga berarti ilmu pengetahuan (Kusumah,1986). Proses berpikir yang terjadi disaat menurunkan atau menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang diketahui benar atau dianggap benar itu biasanya disebut dengan penalaran (reasoning).

Logika muncul bersama dengan filsafat. Itu tidak berarti logika berdiri sendiri sebagai satu disiplin di samping filsafat melainkan bahwa dalam filsafat Barat – sudah nyata pemikiran yang logis. Untuk menetapkan dengan pasti kapan “hari lahir” logika tidak mungkin. Umumnya diterima bahwa orang pertama yang melakukan pemikiran sistematis tentang logika adalah filsuf besar Yunani Aristoteles (384-322 M). menarik, karena Aristoteles sendiri tidak menggunakan istilah “logika”. Apa yang sekarang kita kenal sebagai logika, oleh Aristoteles dinamakan “Analitika” – penyelidikan terhadap argumentasi-argumentasi yang bertitik-tolak dari putusan-putusan yang benar – dan “Dialektika” – penyelidikan terhadap argumentasi-argumentasi yang bertitik-tolak dari putusan-putusan yang masih diragukan.

Mempelajari logika juga memiliki manfaat antara lain :
o   Membantu kita berpikir secara rasional, kritis, dan sistematis;
o   Meningkatkan kemampuan berpikir secara objektif dan cermat;
o   Meningkatkan cinta pada kebenaran dan
o   menghindari kesalahan-kesalahan berpikir.



C.      KEKELIRUAN ATAU KESALAHAN
Dalam menjalankan sesuatu pastilah kita menemukan kesalahan atau kekeliruan
saat mengerjakannya. Disini saya akan membahas lebih dalam mengenai kekeliruan(fallacy). Berikut adalah pengertian dari fallacy :
o   Fallacy adalah proses penalaran atau argumentasi yg sebenarnya tidak logis, salah arah, dan menyesatkan.
o   Fallacy adalah suatu gejala berpikir yg salah yg disebabkan oleh pemaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya.

Sebuah kesimpulan harus ditunjang argumentasi yg benar dan sesuai nalar. Dengan demikian, argumentasi yg dibuat adalah untuk membuktikan bahwa  kesimpulan yg diperoleh dalam menalar adalah benar.

Penjelasan Pasal 16 ayat (1) UU KUP menjelaskan ruang lingkup pembetulan terbatas
pada kesalahan atau kekeliruan sebagai akibat dari:
a. Kesalahan tulis, antara lain kesalahan yang dapat berupa nama, alamat, Nomor  Pokok Wajib Pajak, nomor surat ketetapan pajak, jenis pajak, Masa Pajak atau Tahun Pajak, dan tanggal jatuh tempo;
b. Kesalahan hitung, antara lain kesalahan yang berasal dari penjumlahan dan/atau pengurangan dan/atau perkalian dan/atau pembagian suatu bilangan; atau
c. kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-   undangan perpajakan, yaitu kekeliruan dalam penerapan tarif, kekeliruan penerapan persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto, kekeliruan penerapan sanksi administrasi, kekeliruan Penghasilan Tidak Kena Pajak, kekeliruan penghitungan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan, dan kekeliruan dalam pengkreditan pajak.

Kekeliruan berasal dari kata dasar „keliru‟ yang dimaknai:5
o salah: anggapan yang --;
o khilaf; silap: ia -- menendang bola ke gawang sendiri;
o sesat: ajaran yang --;
o tertukar: sandalnya -- dengan sandalku;
o ke·ke·li·ru·an n kesalahan; kekhilafan.


Daftar pustaka

-          http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Artikel_200813_1.pdf


Elvina Dyarosya
1801390656
LA64

Minggu, 26 Oktober 2014

Kompas, 20 Oktober 2014


Membagi Ilmu Secara Cuma-Cuma

Oleh: Defri Werdiono 

Dimas Iqbal
- Nama             : Dimas Iqbal Romadhon 
- Lahir              : Bangkalan, 18 April 1989
- Istri                : Tunggul Puji Lestari (26)
- Pendidikan     : - SDN Pejagan 5 Bangkalan
- SMPN 1 Bangkalan
- SMAN 1 Bangkalan
- Sastra Inggris Universitas Brawijaya (Lulus 2011)
- Jabatan          : - Kepala Lembaga Inkubator Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat
- Dosen luar biasa Universitas Muhammadiyah Malang
- Ketua BKPK Dekopindo Kota Batu
- Direktur CV Jaya Mandiri Kota Batu
- Sekarang sedang mengikuti Program S-2 Pendidikan Bahasa Inggris




Pengalaman  pernah disuruh pulang lantaran belum membayar biaya kursus waktu SMA membuat Dimas Iqbal Romadhon (25) memiliki keinginan membagikan ilmu kepada masyarakat luas secara cuma-cuma. Baginya, pendidikan tidak bisa dikapitalisasi.

Di tempat seluas 300 meter persegi yang ia sebut sebagai pedepokan itulah 30-40 anak menimba ilmu setiap Sabtu sore dan Minggu pagi. Pedepokan Ngelmu Pring berada tepat di bibir tebing anak Sungai Brantas di Jalan Patimura III, Batu, Jawa Timur. Kondisi kelasnya lesehan dan sederhana. Padepokan Ngelmu Pring tidak hanya dipakai untuk belajar. Tempat itu juga digunakan untuk mendukung kegiatan warga.
Nama Ngelmu Pring sendiri diberikan karena tempat belajar ada di bawah rumpun bambu. Pring merupakan bahasa Jawa dari bambu. Jadi, makna harfiah ”Ngelmu Pring” adalah menuntut ilmu di bawah rumpun bambu. Dimas juga mempunyai keinginan untuk membuat sebuah akademi bahasa. Seperti Ngelmu Pring, akademi bahasa itu nantinya juga diharapkan bisa diakses masyarakat luas secara cuma-cuma.
Dimas menuturkan, pedepokan yang berada 200 meter dari jalan raya itu, berdiri pada Januari 2013. Disitulah, Dimas dan Puji dibantu sejumlah rekan satu almamater mulai memperkenalkan bahasa asing melalui kegiatan yang dinamai Kampung Inggris, Perancis, dan Jepang. ”Tiga bahasa itu dipilih karena pengajarnya saat itu memang menguasai tiga bahasa. Kegiatan itu sendiri dilakukan penuh selama dua pekan,” ujar lelaki yang memiliki istri bernama Tunggul Puji Lestari (26).
Ia dan rekan-rekannya menyulap lahan bekas kandang ayam milik istrinya menjadi sekolah alam yang menyenangkan. Hingga kini ada sekitar 40 pengajar yang terlibat di Ngelmu Pring. Mereka berasal kalangan dosen, mahasiswa, dan swasta. Seperti halnya para siswa, para pengajar juga tidak dibayar. Mereka adalah orang-orang yang siap kehilangan waktu, tenaga, dan biaya, termasuk rela patungan untuk biaya operasional sekolah. Ada pula sejumlah orang asing yang mengajar.

Ngelmu Pring tidak hanya memperkenalkan bahasa asing. Dengan pembagian dua kelompok besar, yakni kelas A untuk anak usia kurang dari 12 tahun dan kelas B untuk anak SMP- SMA, Ngelmu Pring juga mengajarkan berwiraswasta. Para siswa diajarkan bagaimana memanfaatkan potensi lokal yang ada sehingga bisa dikembangkan untuk mendukung taraf hidup. Memperkenalkan bahasa asing kepada anak-anak tidaklah mudah. Salah satu kendalanya adalah meyakinkan para orangtua siswa.

”November besok saya ke Filipina. Saya diundang ke konferensi dan berbicara di salah satu radio di sana. Tidak ada salahnya, saya berharap bisa merangkul banyak orang sebagai donasi untuk mewujudkan (akademi) nantinya,” kata Dimas. Dia berharap kepada para mantan pengajar yang telah keluar dan pindah ke tempat lain untuk bisa membuat tempat belajar gratis semacam Ngelmu Pring.

Menurut saya kegiatan yang dilakukan oleh Bapak Dimas beserta Ibu Puji sangatlah terpuji. Mereka dibantu oleh rekan-rekannya mendirikan Ngelmu Pring dengan biaya dan usaha sendiri. Mereka pun tidak mendapatkan uang apa pun dari kegiatan mengajarnya.  Tujuan mereka hanyalah ingin anak-anak dipelosok desa mendapatkan pendidikan yang selayaknya, sehingga perkembangan mereka tidak kalah oleh anak-anak yang bersekolah di kota, walaupun bahan ajarannya hanyalah Bahasa Asing dan bagaimana berwiraswasta. Tetapi secara langsung atau tidak langsung bahan ajaran  ini akan sangat berguna untuk masa kini maupun masa yang akan datang. Dan Pemerintah juga perlu memberi perhatian kepada kegiatan mulia ini.  



Elvina Dyarosya
1801390656

LA64

Sabtu, 25 Oktober 2014

Kompas, 2 Oktober 2014   

Melestarikan Tarian Dayak dengan Cinta dan Totalitas

Oleh: Emanuel Edi Saputra 

Lunsa Balu
- Lahir              : Jongkang Manday, 6 April 1963
- Pendidikan      : - SD Subsidi Bika Nazareth, 1977
                         - SMP Subsidi Bika Nazareth, 1981
                          - SMAN 01 Putussibau, Kapuas Hulu, 1984
                        - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak,  1993
                        - S-2 Universitas Terbuka, 2009
- Istri                : Trivina Wismarti (42)
- Anak              : - Steven Hendra (20)
- Merry Prisila (14)
- Karier             : - PNS Guru di SMPN 01 Pandan, Kecamatan Tebelian, 1999
- Staf Dinas Pariwisata Sintang, 2006
- Kasi Seni dan Budaya Dinas Pendidikan Sintang, 2007
- Kasi Seni dan Olahraga di Dinas Pendidikan Sintang, 2009
- Kabid Pendidikan Formal dan Nonformal Dinas Pendidikan Sintang, 2011
- Camat Ketungau Hilir, Sintang, 2012 hingga sekarang 
- Prestasi           : - Pentas musik terbaik pada Festival Tari Kreasi Dayak
- Penata tari terbaik Festival Tari Kreasi Kabupaten Sintang
- Juara pertama  tari Dayak pada Festival Tari Kreasi Dawai Dayak Pontianak
- Juara pertama  Festival Budaya Bumi Khatulistiwa Pontianak
- Juara pertama  musik ekspresi budaya pelajar Kabupaten Sintang


Lunsa Balu,bapak berumur 51 tahun ini memiliki kecintaan pada tradisi Dayak yang membuatnya bertekad mendirikan sanggar tari Tampun Juah di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Meskipun fasilitas pendukungnya relatif minim, berkat totalitas dan kecintaannya, sanggarnya kerap menjuarai kompetisi di Tanah Air dan tampil di mancanegara.


Lunsa bergelut dengan seni tari sejak duduk di bangku SD, dengan belajar di sanggar tari. Pada 1992, Lunsa sudah keliling Eropa mengikuti pergelaran tari di Spanyol, Rusia, Perancis, dan Belanda bersama tim seni Kalbar. ”Pada saat itu, saya mewakili tarian dari etnis Dayak,” ujarnya. Pada tahun 2000, Lunsa pindah ke Kabupaten Sintang untuk menjalani profesi sebagai pegawai negeri. Saat di Sintang, dia melihat tidak ada satu pun sanggar tari. Maka, pada 2001 dia membuat sanggar tari yang diberi nama Tampun Juah.


Selain melestarikan budaya Dayak, dengan sanggar itu, dia juga merangkul masyarakat di daerah dengan menciptakan berbagai tarian tradisi dan kreasi. Contohnya, tari Buka Umbung. Tarian itu membawa sanggar Tampun Juah menjadi juara pertama pada kompetisi di Bali. Selain itu, tari Besagu Ayu yang merupakan tarian dukun Dayak Kantuk. Tarian tersebut bercerita tentang pengobatan. Tarian itu pernah dibawakan di sejumlah negara.

Tarian merupakan bentuk komunikasi masyarakat Dayak dengan alam dan untuk penyembuhan. Namun, dalam perkembangannya, tarian-tarian itu semakin bervariasi sehingga muncul tarian yang tidak lagi murni tradisi, tetapi juga tarian kreasi. Ada juga tarian Lesung tentang ketangkasan dan keberanian pemuda Dayak. Tarian ini pernah dibawakan di Istana Negara beberapa waktu lalu.
Perjuangan Lunsa untuk melestarikan tarian Dayak bukan tanpa kendala. Peralatan musik, misalnya, sejak awal menggunakan peralatan milik gereja. Sanggar Tampun Juah juga belum memiliki tempat latihan permanen hingga saat ini. Sanggarnya itu juga tidak memiliki uang kas. Bagi Lunsa, yang terpenting kepuasan batin jika penampilan anak-anak asuhnya baik. ”Saya mendirikan sanggar ini bukan untuk mencari uang, tetapi ada kepuasan batin juga dan menemukan diri saya yang sesungguhnya,” ujar bapak yang memiliki 2 orang anak ini.

Tantangan lainnya adalah menjaga semangat anak-anak di sanggar agar tetap mencintai tari. Apalagi, tarian ada potensi semakin tergerus seiring perkembangan zaman. Untuk itu, Lunsa memotivasi anak-anak asuhnya, bahkan mereka dianjurkan untuk sekolah ke perguruan tinggi dalam bidang seni. Dan tantangan untuk mempertahankan seni tradisional saat ini juga berat di kalangan muda. Apalagi, sudah banyak alat musik elektronik.

Keberhasilan Lunsa mengembangkan bakat orang-orang di sekitarnya tidak disambut setiap orang. Bahkan, beberapa kali ada pihak yang melarang pentas sanggar Tampun Juah dengan alasan sudah sering menjadi juara. Lunsa berharap pemerintah bisa memberikan perhatian pada perjuangan mereka melestarikan kebudayaan.  Meski banyak keterbatasan, Lunsa tidak pernah putus asa. Besarnya kecintaan Lunsa pada kebudayaan Dayak membuat segala tantangan serasa tidak berarti.


Menurut saya semua kegiatan yang dilakukan oleh Lunsa adalah kegiatan yang sangat positif dan sangat berguna  untuk melestarikan kebudayaan daerah,  terutama kebudayaan Dayak dalam bidang seni tari nya. Kegiatan ini juga sangat berguna untuk kalangan muda zaman kini yang lebih memberi simpati kepada budaya luar dibandingkan kebudayaan dari negara sendiri. Pemerintah juga harus memberi perhatian kepada apa yang telah dilakukan oleh Luansa dan keluarganya yang juga mengambil alih dalam sanggar tari Tampun Jua. Dan juga didukung oleh masyarakat seperti kesadaran bahwa memang penting untuk mengetahui atau bahkan mempelajari budaya yang ada di Indonesia ini. 




Elvina Dyarosya
1801390656
LA64



Rabu, 22 Oktober 2014

Kompas, 15 Oktober 2014

Peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2014



Jean Marcel Tirole

Perusahaan asuransi yang harusnya hati-hati mengelola dana-dana bermain spekulatif di pasar uang dan merugi. Dampaknya adalah kelesuan ekonomi yang masih terasa dengan pengangguran di atas 6 persen di AS dan 10 persen di zona euro.
Sebelum krisis 2008, Jean Marcel Tirole (61) sudah mendalami sektor keuangan AS. Dia dosen di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Ketika krisis ekonomi AS tahun 2008, dia menganalisis sektor itu. Bersama Roland Benabou dari Princeton University, dia menulis tentang dampak kebijakan pemberian bonus besar yang mengacaukan sistem kerja perusahaan, mendistorsi keputusan dewan manajemen, dan menyebabkan kerugian signifikan dalam jangka panjang. ”Perbankan memang sulit diatur. Kami, para ekonom, harus memberikan perhatian lebih pada bidang ini,” kata Tirole.
Pada tahun 2012, kepada media Perancis, Tirole mengatakan rasa heran betapa otoritas AS mendukung bank investasi hanya karena alasan tidak memiliki deposan kecil sehingga tidak wajib terkena peraturan bisnis. Di luar industri keuangan, Tirole juga menganalisis sektor industri lain, seperti telekomunikasi dan beberapa sektor lain. Dia menemukan eksistensi perusahaan besar. Ditemukan tindakan semena-mena dengan mengenakan harga produk yang sangat jauh di atas biaya produksi.
Banyak peneliti dan pembuat kebijakan mencari prinsip umum untuk mengatasi ekses buruk monopoli. Tirole menunjukkan peraturan itu bisa berlaku pada kondisi tertentu, tetapi bisa mengganggu di bidang lain. Kebijakan pembatasan harga pada produk industri monopolistik bisa mendorong perusahaan mengurangi biaya produksi. Ini baik bagi konsumen, tetapi tetap bisa membiarkan perolehan untung berlebihan.
”Kita memerlukan persaingan. Akan tetapi, itu tidak akan datang sendirinya. Karena itu, diperlukan kerangka akademis untuk menganalisis ini,” kata Tirole. Atas alasan inilah, dia mendapatkan Hadiah Nobel Ekonomi 2014 dan akan menerima uang 8 juta krona Swedia, setara 1,1 juta dollar AS.
Tirole berterima kasih kepada lingkungan, istri, dan ibunya. Dia bangga karena dihargai. ”Hadiah ini langsung membuat saya teringat semua orang yang pernah menolong karier saya, khususnya almarhum Jean-Jacques Laffont. Dialah seharusnya yang layak menerima ini.” Hadiah Nobel untuk Tirole membuat Perancis berbahagia. Ini penghibur bagi negara yang sedang dilanda kelesuan ekonomi. Tirole adalah warga Perancis kedua penerima Nobel Ekonomi setelah Maurice Felix Charles Allais (31 Mei 1911-9 Oktober 2010), penerima Hadiah Nobel Ekonomi 1988.

Menurut saya, Jean Marcel Tirole adalah sosok yang pantas mendapat penghargaan Hadiah Nobel Ekonomi 2014 dan mendapatkan sejumlah uang karena ia merupakan pribadi yang pintar untuk menghadapi berbagai masalah ekonomi di AS dan mampu menguasai industri selain industri keuangan seperti telekomunikasi dan sektor lain. Ia juga mendapat penghargaan berkat usahanya dalam membuat teori dan juga membuat peraturan penjualan produksi yang selama ini telah salah dan semena-mena menjadi peraturan yang benar dan selayaknya. 



Elvina Dyarosya
1801390656

LA64