Kompas, 20 Oktober 2014
Membagi Ilmu Secara Cuma-Cuma
Oleh: Defri Werdiono
Dimas
Iqbal
- Nama : Dimas Iqbal Romadhon
- Lahir :
Bangkalan, 18 April 1989
- Istri :
Tunggul Puji Lestari (26)
- Pendidikan :
- SDN Pejagan 5 Bangkalan
-
SMPN 1 Bangkalan
-
SMAN 1 Bangkalan
-
Sastra Inggris Universitas Brawijaya (Lulus 2011)
- Jabatan :
- Kepala Lembaga Inkubator Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat
-
Dosen luar biasa Universitas Muhammadiyah Malang
-
Ketua BKPK Dekopindo Kota Batu
-
Direktur CV Jaya Mandiri Kota Batu
-
Sekarang sedang mengikuti Program S-2 Pendidikan Bahasa Inggris
Pengalaman pernah disuruh pulang lantaran
belum membayar biaya kursus waktu SMA membuat Dimas Iqbal Romadhon (25)
memiliki keinginan membagikan ilmu kepada masyarakat luas secara cuma-cuma.
Baginya, pendidikan tidak bisa dikapitalisasi.
Di tempat seluas 300
meter persegi yang ia sebut sebagai pedepokan itulah 30-40 anak menimba ilmu
setiap Sabtu sore dan Minggu pagi. Pedepokan Ngelmu Pring berada tepat di bibir
tebing anak Sungai Brantas di Jalan Patimura III, Batu, Jawa Timur. Kondisi
kelasnya lesehan dan sederhana. Padepokan Ngelmu Pring tidak hanya dipakai
untuk belajar. Tempat itu juga digunakan untuk mendukung kegiatan warga.
Nama Ngelmu Pring
sendiri diberikan karena tempat belajar ada di bawah rumpun bambu. Pring merupakan
bahasa Jawa dari bambu. Jadi, makna harfiah ”Ngelmu Pring” adalah menuntut ilmu
di bawah rumpun bambu. Dimas juga mempunyai keinginan untuk membuat sebuah
akademi bahasa. Seperti Ngelmu Pring, akademi bahasa itu nantinya juga
diharapkan bisa diakses masyarakat luas secara cuma-cuma.
Dimas menuturkan,
pedepokan yang berada 200 meter dari jalan raya itu, berdiri pada Januari 2013.
Disitulah, Dimas dan Puji dibantu sejumlah rekan satu almamater mulai
memperkenalkan bahasa asing melalui kegiatan yang dinamai Kampung Inggris,
Perancis, dan Jepang. ”Tiga bahasa itu dipilih karena pengajarnya saat itu
memang menguasai tiga bahasa. Kegiatan itu sendiri dilakukan penuh selama dua
pekan,” ujar lelaki yang memiliki istri bernama Tunggul Puji Lestari (26).
Ia dan rekan-rekannya menyulap lahan bekas kandang ayam milik istrinya menjadi
sekolah alam yang menyenangkan. Hingga kini ada sekitar 40 pengajar yang
terlibat di Ngelmu Pring. Mereka berasal kalangan dosen, mahasiswa, dan swasta.
Seperti halnya para siswa, para pengajar juga tidak dibayar. Mereka adalah
orang-orang yang siap kehilangan waktu, tenaga, dan biaya, termasuk rela
patungan untuk biaya operasional sekolah. Ada pula sejumlah orang asing yang
mengajar.
Ngelmu Pring tidak hanya memperkenalkan bahasa asing. Dengan pembagian dua
kelompok besar, yakni kelas A untuk anak usia kurang dari 12 tahun dan kelas B
untuk anak SMP- SMA, Ngelmu Pring juga mengajarkan berwiraswasta. Para siswa
diajarkan bagaimana memanfaatkan potensi lokal yang ada sehingga bisa
dikembangkan untuk mendukung taraf hidup. Memperkenalkan bahasa asing kepada
anak-anak tidaklah mudah. Salah satu kendalanya adalah meyakinkan para orangtua
siswa.
”November besok saya
ke Filipina. Saya diundang ke konferensi dan berbicara di salah satu radio di
sana. Tidak ada salahnya, saya berharap bisa merangkul banyak orang sebagai
donasi untuk mewujudkan (akademi) nantinya,” kata Dimas. Dia berharap kepada para
mantan pengajar yang telah keluar dan pindah ke tempat lain untuk bisa membuat
tempat belajar gratis semacam Ngelmu Pring.
Menurut saya kegiatan
yang dilakukan oleh Bapak Dimas beserta Ibu Puji sangatlah terpuji. Mereka
dibantu oleh rekan-rekannya mendirikan Ngelmu Pring dengan biaya dan usaha
sendiri. Mereka pun tidak mendapatkan uang apa pun dari kegiatan mengajarnya. Tujuan mereka hanyalah ingin anak-anak
dipelosok desa mendapatkan pendidikan yang selayaknya, sehingga perkembangan
mereka tidak kalah oleh anak-anak yang bersekolah di kota, walaupun bahan ajarannya
hanyalah Bahasa Asing dan bagaimana berwiraswasta. Tetapi secara langsung atau
tidak langsung bahan ajaran ini akan
sangat berguna untuk masa kini maupun masa yang akan datang. Dan Pemerintah
juga perlu memberi perhatian kepada kegiatan mulia ini.
Elvina Dyarosya
1801390656
LA64

Menurut saya sosok yang telah disampaikan sangat menginspirasi karena pada saat ini sudah jarang sekali seseorang mau membagi ilmu secara cuma-cuma dengan ikhlas dan peduli dengan pendidikan anak-anak dipelosok yang jauh dari kata berkembang.
BalasHapusMembagi ilmu adalah hal yang sangat mulia menurut saya. Apalagi jika dilakukan dengan cuma - cuma seperti itu. Hal ini sangat mengagumkan dan inspiratif. Semoga tidak hanya Pak Dimas saja yang melakukan aksi mulia seperti ini, tetapi masyarakat juga bisa turut serta melakukan hal tersebut.
BalasHapusMenurut saya sosok ini sangat meninspirasi karena Bapak Dimas melakukan hal yang sangat mulia yaitu membagi ilmu. Bapak Dimas juga membagi ilmunya tanpa pamrih alias cuma-cuma kepada anak-anak yang tinggalnya jauh dari perkembangan. Semoga dengan adanya sosok seperti Bapak Dimas, banyak orang yang akan terketuk hatinya untuk mau berbagi, apalagi berbagi hal yang tidak akan ada habisnya yaitu ilmu, Terima kasih atas infonya, Elv.
BalasHapus