Kompas, 2 Oktober 2014
Melestarikan Tarian Dayak dengan Cinta dan Totalitas
Oleh: Emanuel
Edi Saputra
Lunsa
Balu
- Lahir : Jongkang
Manday, 6 April 1963
- Pendidikan : - SD Subsidi Bika
Nazareth, 1977
- SMP
Subsidi Bika Nazareth, 1981
-
SMAN 01 Putussibau, Kapuas Hulu, 1984
- Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tanjungpura Pontianak, 1993
- S-2 Universitas Terbuka, 2009
- Istri : Trivina
Wismarti (42)
- Anak : - Steven Hendra
(20)
- Merry Prisila (14)
- Karier : - PNS Guru di
SMPN 01 Pandan, Kecamatan Tebelian, 1999
- Staf Dinas Pariwisata Sintang, 2006
- Kasi Seni dan Budaya Dinas Pendidikan Sintang, 2007
- Kasi Seni dan Olahraga di Dinas Pendidikan Sintang, 2009
- Kabid Pendidikan Formal dan Nonformal Dinas Pendidikan Sintang, 2011
- Camat Ketungau Hilir, Sintang, 2012 hingga sekarang
- Prestasi : - Pentas musik
terbaik pada Festival Tari Kreasi Dayak
- Penata tari terbaik Festival Tari Kreasi Kabupaten Sintang
- Juara pertama tari Dayak pada Festival Tari Kreasi Dawai Dayak
Pontianak
- Juara pertama Festival Budaya Bumi Khatulistiwa Pontianak
- Juara pertama musik ekspresi budaya pelajar Kabupaten Sintang
Lunsa Balu,bapak berumur 51 tahun ini memiliki kecintaan pada tradisi Dayak yang membuatnya bertekad mendirikan sanggar tari Tampun Juah di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Meskipun fasilitas pendukungnya relatif minim, berkat totalitas dan kecintaannya, sanggarnya kerap menjuarai kompetisi di Tanah Air dan tampil di mancanegara.
Lunsa bergelut dengan seni tari sejak
duduk di bangku SD, dengan belajar di sanggar tari. Pada 1992, Lunsa sudah
keliling Eropa mengikuti pergelaran tari di Spanyol, Rusia, Perancis, dan
Belanda bersama tim seni Kalbar. ”Pada saat itu, saya mewakili tarian dari
etnis Dayak,” ujarnya. Pada tahun 2000, Lunsa pindah ke Kabupaten Sintang untuk
menjalani profesi sebagai pegawai negeri. Saat di Sintang, dia melihat tidak
ada satu pun sanggar tari. Maka, pada 2001 dia membuat sanggar tari yang diberi
nama Tampun Juah.
Selain melestarikan budaya Dayak, dengan
sanggar itu, dia juga merangkul masyarakat di daerah dengan menciptakan
berbagai tarian tradisi dan kreasi. Contohnya, tari Buka Umbung. Tarian itu
membawa sanggar Tampun Juah menjadi juara pertama pada kompetisi di Bali. Selain
itu, tari Besagu Ayu yang merupakan tarian dukun Dayak Kantuk. Tarian tersebut
bercerita tentang pengobatan. Tarian itu pernah dibawakan di sejumlah negara.
Tarian merupakan bentuk komunikasi
masyarakat Dayak dengan alam dan untuk penyembuhan. Namun, dalam
perkembangannya, tarian-tarian itu semakin bervariasi sehingga muncul tarian
yang tidak lagi murni tradisi, tetapi juga tarian kreasi. Ada juga tarian
Lesung tentang ketangkasan dan keberanian pemuda Dayak. Tarian ini pernah
dibawakan di Istana Negara beberapa waktu lalu.
Perjuangan Lunsa untuk melestarikan tarian
Dayak bukan tanpa kendala. Peralatan musik, misalnya, sejak awal menggunakan
peralatan milik gereja. Sanggar Tampun Juah juga belum memiliki tempat latihan
permanen hingga saat ini. Sanggarnya itu juga tidak memiliki uang kas. Bagi
Lunsa, yang terpenting kepuasan batin jika penampilan anak-anak asuhnya baik.
”Saya mendirikan sanggar ini bukan untuk mencari uang, tetapi ada kepuasan
batin juga dan menemukan diri saya yang sesungguhnya,” ujar bapak yang memiliki
2 orang anak ini.
Tantangan lainnya adalah menjaga semangat
anak-anak di sanggar agar tetap mencintai tari. Apalagi, tarian ada potensi
semakin tergerus seiring perkembangan zaman. Untuk itu, Lunsa memotivasi
anak-anak asuhnya, bahkan mereka dianjurkan untuk sekolah ke perguruan tinggi
dalam bidang seni. Dan tantangan untuk mempertahankan seni tradisional saat ini
juga berat di kalangan muda. Apalagi, sudah banyak alat musik elektronik.
Keberhasilan Lunsa mengembangkan bakat
orang-orang di sekitarnya tidak disambut setiap orang. Bahkan, beberapa kali
ada pihak yang melarang pentas sanggar Tampun Juah dengan alasan sudah sering
menjadi juara. Lunsa berharap pemerintah bisa memberikan perhatian pada
perjuangan mereka melestarikan kebudayaan. Meski banyak keterbatasan, Lunsa tidak pernah
putus asa. Besarnya kecintaan Lunsa pada kebudayaan Dayak membuat segala tantangan
serasa tidak berarti.
Menurut saya semua kegiatan yang dilakukan oleh Lunsa adalah
kegiatan yang sangat positif dan sangat berguna untuk melestarikan kebudayaan daerah, terutama kebudayaan Dayak dalam bidang seni
tari nya. Kegiatan ini juga sangat berguna untuk kalangan muda zaman kini yang
lebih memberi simpati kepada budaya luar dibandingkan kebudayaan dari negara
sendiri. Pemerintah juga harus memberi perhatian kepada apa yang telah dilakukan
oleh Luansa dan keluarganya yang juga mengambil alih dalam sanggar tari Tampun
Jua. Dan juga didukung oleh masyarakat seperti kesadaran bahwa memang penting
untuk mengetahui atau bahkan mempelajari budaya yang ada di Indonesia ini.
Elvina Dyarosya
1801390656
LA64

Saya kagum dengan sosok Bapak Lunsa. Dengan tekad dan kerja kerasnya, adat dayak menjadi terus tumbuh. Tetapi saya kecewa dengan diberitahunya bahwa tidak adanya perhatian khusus untuk tari tradisional seperti ini. Semoga pemimpin kita yang baru, dapat lebih memberi perhatiannya terhadap adat Indonesia yang semakin lumpuh.
BalasHapus