Blogger Widgets Ilmu Sosial untuk Psikologi : Filsafat Manusia, Sosiologi, dan Antropologi

Sabtu, 22 November 2014

Kompas, 21 November 2014


Totalitas Melayani Pasien

Oleh: KORNELIS KEWA AMA 


Maria Yosephina Melinda Gampar
-         - Lahir: Kupang, 7 Agustus 1980
-        -  Pendidikan terakhir: Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta, 2006
-         - Penghargaan: Dokter teladan tingkat provinsi 2012
-         - Pekerjaan: Dokter pada Puskesmas Labuan Bajo

Sapaan yang manis, senyum, dan dukungan moril dari dokter amat membantu proses penyembuhan pasien yang sedang sakit. Amat pas jika predikat dokter teladan tingkat provinsi pun diraih dr Maria Yosephina Melinda Gampar (34) pada tahun 2012. Tidak aneh jika semua pasien yang pernah dilayaninya tidak melupakan keramahan yang diberikan saat pelayanan kesehatan.
Hubungan emosional antara dokter dan pasien dipahami benar oleh dr Melinda dalam tugas pelayanan setiap hari. Pasien yang datang ke puskesmas memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap sang dokter atau paramedis. Tidak mengherankan jika setiap petunjuk, nasihat, resep obat, dan pola hidup sehat yang disampaikan sang dokter ditaati oleh pasien sesuai kemampuan mereka.
Ketika hendak ditemui Kompas di Puskesmas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pertengahan bulan lalu, dr Melinda memilih waktu petang. Ia tidak ingin waktu untuk melayani pasien yang sedang rawat jalan jadi berkurang.
”Saya dipanggil menjadi dokter hanya karena ada orang sakit atau pasien. Tanpa mereka, tugas dan fungsi saya tidak bermakna sama sekali. Karena itu, pasien selalu saya prioritaskan dalam tugas dan pelayanan,” kata dr Melinda.  Ia juga mengatakan, pasien dari desa sangat ramah dan sopan terhadap dokter.
Status pegawai negeri sipil (PNS) baru disandang dr Melinda pada 2008. Ia sudah melalui masa kerja sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) yang berlangsung mulai tahun 2006 sampai 2008.
Untuk menuju Puskesmas Waenakeng yang memiliki dua dokter dan lima tenaga perawat ini, dr Melinda harus berkendaraan roda empat selama dua jam dari Labuan Bajo. Setiap hari, puskesmas ini melayani 30-100 pasien rawat jalan dan 5-10 pasien rawat inap.
Menurut dr Melinda, obat bukan segala-galanya yang bisa menyembuhkan pasien. Jika obat itu diberikan dengan penuh pelayanan, yakni dengan senyum, keramahan, keyakinan, dan ketulusan hati, pasien yang bersangkutan punya keyakinan untuk cepat sembuh.
Kondisi darurat sering diakrabi dr Melinda, misalnya ibu yang melahirkan pada malam hari. Apalagi jika di sekitar tempat tinggal sang ibu tidak ada tenaga medis, seperti bidan, ia juga harus mengunjungi pasien tersebut. Ia mengatakan, meski sudah bekerja maksimal, kasus kematian ibu melahirkan cukup tinggi, yakni 25 orang.
Ada juga pasien darurat yang baru tiba di puskesmas tengah malam dan pada saat itu listrik padam. Terpaksa dr Melinda memanfaatkan sumber penerangan seadanya, seperti senter, telepon genggam, lilin, atau lampu darurat yang tersedia.
”Saya sudah satu tahun bekerja di Puskesmas Labuan Bajo. Masalah utama yang dihadapi di Labuan Bajo adalah pasien yang datang dari pulau yang jauh. Kami harus prioritaskan pelayanan terhadap mereka agar mereka bisa pulang lebih awal ketika gelombang laut lebih tenang,” ujar dr Melinda.
Di Labuan Bajo atau Kecamatan Komodo, sebagian besar penduduk tinggal di pulau-pulau kecil. Meski sebuah rumah sakit sudah dibangun tahun 2012, kepala dinas kesehatan setempat tersandung masalah korupsi. Akibatnya, nasib rumah sakit itu pun terbengkalai sampai hari ini.
            Kegiatan seperti menyapa dengan senyum memang kegiatan yang terlihat sepele, namun sebenarnya ini sangatlah dibutuhkan. Menyapa dengan senyum inilah yang dijadikan kunci oleh dr Maria dalam melayani pasien-pasiennya, karena menurutnya hal yang dianggap sepele oleh orang lain ini sangatlah membantu saat ia melayani pasien-pasiennya sehingga mereka lebih memiliki keyakinan untuk sembuh. Kepala dinas kesehatan Labuan Bajo juga harus bertanggung jawab oleh rumah sakit yang telah terbengkalai akibat masalah korupsi, karena bagaimanapun rumah sakit sangatlah dibutuhkan dan berguna untuk masyarakat.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64



3 komentar:

  1. Pekerjaan dokter tentunya tidaklah mudah karena nyawa adalah taruhannya. Hasil kerjanya membuahnya hasil yaitu beliau menjadi dokter teladan tingkat provinsi. Karena keramahan beliau seperti senyum, keyakinan, dan ketulusan hati dalam bekerja. Tidak heran jika dr. Maria disukai oleh banyak pasien. Semoga dengan membaca sosok dr. Maria ini dapat memberikan contoh kepada masyarakat agar tidak perlu takut dengan dokter,karena masih ada dokter yang ramah seperti dr. Maria ini dan khususnya untuk dokter kepercayaan, dan keramahan dari seorang dokterlah yang mempunyai nilai tambah tersendiri dimata pasien

    BalasHapus
  2. Senyuman dan sapaan. Dua hal yang sangat berpengaruh tetapi sering disepelekan oleh para dokter. Padahal kedua hal tersebut sangatlah penting. dr Maria adalah salah seorang dokter yang mementingkan dua hal tersebut. Hal ini seharusnya inspiratif bagi para dokter. Dan saya harap, para dokter di Indonesia, bisa melakukan hal tersebut pula. Karena siapa tahu dengan begitu akan ada energi - energi positif yang dapat diterima pasien sehingga bisa membuatnya merasa lebih baik, nyaman, dan tenang.

    BalasHapus
  3. Setelah membaca sosok yang Elvina ringkas ini, saya jadi tau bahwa menjadi dokter tidaklah mudah karena pekerjaan itu menyangkut nyawa orang lain. Ibu Melinda adalah dokter yang ramah. Berkat keramahan dan sifat mudah senyumnya itu, ia di sukai oleh banyak pasien. Hal ini juga dapat membantu penyembuhan pasien itu sendiri. Saya sangat kagum dengan kegiatan menyapa dengan senyum yang di lakukan Ibu Melinda karena membawa dampak yang psotif bagi banyak orang walaupun terlihat sepele. Terima kasih atas infonya, Elvina!

    BalasHapus