Blogger Widgets Ilmu Sosial untuk Psikologi : Filsafat Manusia, Sosiologi, dan Antropologi

Sabtu, 15 November 2014


Kompas, 15 November 2014

Menemukan Identitas dengan Berbagi
Oleh: Haris Firdaus & WISNU NUGROHO



Farid Stevy Asta
-         Lahir: Gunung Kidul, 20 Oktober 1982
-         Aktivitas: desainer grafis, perupa, musisi
-          Pendidikan: 
- SD Plembutan I, Gunung Kidul (1989-1994)
- SMP Negeri I Playen, Gunung Kidul (1994-1997)
- SMA Negeri 1 Wonosari, Gunung Kidul (1997-2000)
- ISI Yogyakarta (2000-2007)

Sehari-hari, Farid Stevy Asta (32) menghidupi tiga dunia: seni rupa, desain grafis, dan musik. Semangat berbagi jadi pijakan dasar ketiganya. Farid adalah gambaran generasi baru Indonesia. Kreatif dan karena itu tidak lelah menghasilkan karya.

Kecintaan Farid pada seni visual berakar pada pengalaman masa kecilnya. Ayahnya, Asto Puaso, adalah pembuat reklame papan kayu di Gunung Kidul. Semasa kecil, Farid kerap diminta ayahnya membantu membuat reklame. ”Sejak kecil, saya dididik membantu bapak membuat reklame supaya bisa dapat uang saku. Jadi, kerja visual pertama saya adalah membantu bapak membikin reklame,” ujarnya.
Beberapa tahun terakhir, Farid dikenal sebagai perupa muda Yogyakarta yang karya-karyanya khas dan punya jiwa. Tiap hari, karyanya bisa kita nikmati di seluruh Indonesia lewat desain logo keripik Maicih dan PT Kereta Api Indonesia. Puluhan karya lain dan belasan desain logo juga tersebar di seluruh Indonesia.
Sebagai perupa, Farid mulai berproses pada awal dekade 2000-an. Karya awalnya berupa mural dan grafiti mengisi ruang-ruang publik di Kota Yogyakarta. Pada masa itu, street artsedang merajalela di Indonesia. ”Sebagai seniman, saya memang pertama kali tertarik dengan street art meskipun kemudian saya juga menekuni lukisan,” katanya.
Awalnya, lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2007 itu mengikuti banyak pameran bersama untuk meluaskan karyanya. Pada dua pameran awal, 2008 dan 2011, Farid banyak menggambar figur manusia dan binatang. Pada pameran ketiganya yang bertajuk ”GDRS GTH”, dia mulai menampilkan kata-kata dalam lukisannya.
Berakar dalam kebudayaan Jawa, sebagai perupa, Farid memiliki prinsip migunani tumraping liyan atau berguna bagi orang lain. Prinsip ini  diakrabi Farid sejak kecil. Wujud prinsip itu beragam.
Masih kurang kegiatan, Farid juga menjadi desainer grafis dengan mendirikan perusahaan bernama LIBSTUD. ”Kami fokus pada desain logo suatu brand. Kami kebanyakan mengerjakan desain logo untuk kafe,” ujar Farid yang memenangi lomba desain logo PT KAI pada 2011.
Sejak tahun 2003, Farid juga aktif sebagai vokalis band Jenny yang lalu berubah nama menjadi FSTVLST (baca: Festivalist) pada 2011. Farid mengatakan, bermusik baginya bukan untuk mencari uang. Selain demi kesenangan, Farid ternyata punya harapan besar yang ingin dicapai melalui musik. Lagi-lagi, cita-cita itu berkait dengan prinsip migunani tumraping liyan.
Dalam semangat ini, Farid bersama alumnus ISI Yogyakarta lintas generasi menggarap NEMU, terdiri dari nyantrik (residensi, lokakarya), eling (pengarsipan), meguru (diskusi, kuliah), dan umuk (pameran, presentasi). NEMU adalah kerja kolektif atau gerakan dengan desain sebagai pijakan dan telah berjalan.
Meluaskan cakupannya, Farid menjadi manajer produk WikiNothing berbasis web yang berambisi memetakan Indonesian youth culture. ”Kami berharap WikiNothing nantinya jadi rujukan saat orang mencari tahu tentang Indonesian youth culture. Ada 11-15 kota yang akan terlibat,” ujar Farid yang seperti selalu gelisah ketika punya waktu luang.
            Kegiatan yang kita senangi  dalam menjalaninya atau biasa disebut hobi haruslah kita kembangkan, karena selain mendapatkan ilmu yang banyak, tidak menutup kemungkinan juga hobi kita dapat menghasilkan uang untuk menopang kehidupan. Seperti yang dilakukan oleh Farid dari hobi yang dikembangkannya, ia dapat meraih perhatian dari masyarakat tentang hobinya tersebut. Sifat tidak kenal lelah dan tidak memberikan adanya waktu luang terbuang begitu saja yang dimiliki Farid jugalah sangat positif dan baik untuk dicontoh bagi generasi masa sekarang ataupun yang akan datang karena dapat menghasilkan manusia yang aktif dan produktif.



Elvina Dyarosya
1801390656
LA64


3 komentar:

  1. Jarang sekali ada orang seperti Farid yang meneruskan hobi nya dan mejadikannya sebagai tempat untuk menghasilkan uang. Terlebih lagi hobi nya untuk mengembangkan nama Indonesia, saya semakin ancungkan kedua jempol saya untuk beliau. Saya berharap anak-anak generasi yang akan datang, dapat mencontoh beliau, karena hobi untuk mengembangkan nama Indonesia semakin dapat dihitung dengan jari.

    BalasHapus
  2. Keuletan seorang Farid yang harus dicontoh karena ia semangat untuk mengembangkan hobinya. Ia juga tidak kenal waktu luang, hampir semua waktu luang yang ada digunakan ia untuk mendapatkan ilmu yang banyak agar bisa menghasilnya uang untuk kebutuhan sehari-hari. Ia juga merupakan sosok yang aktif dan produktif:)

    BalasHapus
  3. Mengembangkan hobi yang positif seperti mengerjakan hal - hal yang berbau kesenian seperti ini sangatlah bernilai baik. Sebab hal ini dapat menjauhkan diri kita dari hal - hal negatif seperti, tawuran atau terjerumus obat - obatan terlarang. Seorang Farid telah menginspirasi kita dengan hobi dan aksinya tersebut. Semoga hal ini dapat menyadarkan masyarakat bahwa mengembang hobi yang positif sangatlah perlu.

    BalasHapus