Kompas, 16 Januari 2015
Pagi Jadi Guru, Siang Melaut, Sore Menjual Bakso
Oleh: KHAERUL
ANWAR
Zuhirman
♦ Lahir: 9 Agustus
1988 di Dusun Kecinan, Desa Melaka, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, NTB
♦ Pendidikan:
- SDN 3 Melaka, lulus
2001
- Madrasah Tsanawiyah
An Najah, Gunungsari, Lombok Barat, lulus 2004
- Madrasah Aliyah ’An
Najah’, Gunungsari, Lombok Barat, lulus 2007
- Mahasiswa
Fakultas Tarbiyah semester VII STAI Nurul Hakim, Desa Kediri, Lombok
Barat
Sekolah
Dasar Islam (SDI) yang ”tersembunyi” di pemukiman penduduk berhadapan dengan
areal kebun dan sebuah bukit itu dibagi dua untuk ruang kelas. Ada juga sebuah
tenda didirikan berdampingan dengan bangunan yang juga untuk ruang belajar para
siswa. Hanya saja, ”Belajar-mengajar di bawah tenda dilakukan bergilir,”
katanya.
Bangunan
permanen itu ditempati akhir 2014 yang biaya pembangunannya berasal dari
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara. Adapun tenda merupakan sumbangan dana dari
warga dusun yang ada disekelilingnya.
Sarajudin-Masidah,
orangtua Zuhirman, menyumbangkan tanah seluas 3 are, tempat berdirinya sekolah
saat ini. Diperkuat lima guru relawan, SDI ini memiliki 30 siswa: 7 orang kelas
I, 7 orang kelas II, dan 16 orang kelas III. Dari total siswa itu ada dua
penyandang disabilitas.
Bentuk
bentang alam yang berbukit-bukit membuat dusun ini terisolasi dari akses
informasi dan komunikasi. Selain itu, dusun ini juga minim fasilitas
pendidikan. Kini dusun ini pun terkena imbas perkembangan obyek wisata
Senggigi.
Kebiasaan
perkawinan dini di dusun ini juga menjadi kisah memprihatinkan. Tidak heran
jika jarang anak-anak perempuan dusun itu tamat SD. Mereka putus sekolah di
kelas IV dan V SD karena menikah.
Dengan
keprihatinan inilah, Zuhirman lalu membangun sekolah. Awalnya ia berdiskusi
dengan beberapa rekannya lulusan sekolah lanjutan tingkat atas yang nantinya
siap jadi guru sukarela. Masyarakat pun mendukung dengan cara menyertakan
anaknya mengikuti proses belajar mengajar.
Kegiatan
belajar mengajar pun mengacu mata pelajaran sesuai kurikulum pendidikan yang
ditetapkan pemerintah. SDI itu mulai menerima siswa pada Juli, bertepatan
dengan Tahun Ajaran 2012, Tempat belajarnya menggunakan sebuah gudang milik
pengusaha kelapa, yang berukuran 4 meter kali 4 meter.
Ruangan
belajar kelas I dan II dibagi dua, tanpa dilengkapi sekat pembatas sehingga
terjadi ”perang suara” saat proses belajar mengajar berlangsung. Dari gudang
itu, aktivitas belajar mengajar pindah ke gedung permanen pada 2014. SDI ini
menempati gedung baru.
Selain
di gudang, aktivitas belajar juga dilakukan di ruang terbuka, seperti di pantai
Dusun Kecinan. Cara ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman bagi siswa
tentang upaya menjaga kelestarian alam.
Agar
proses belajar mengajar berjalan lancar, Zuhirman disiplin membagi waktu untuk
mengajar dan menafkahi anak dan istrinya.
Ketika
kegiatan di sekolah usai, Zuhirman menjalankan peran sebagai nelayan pada pukul
14.00-16.00. Ia memancing ikan di perairan Dusun Kecinan.
Setelah
melaut, Zuhirman menjual bakso ”cilok” keliling kampung. Ia mengambil bakso
dari produsen di Kota Mataram, dengan harga total Rp 120.000. Dia menyambangi
pelanggan dari rumah ke rumah, dan bakso itu biasanya habis menjelang magrib. Dari
berjualan bakso, Zuhirman bisa mengantongi keuntungan Rp 15.000-Rp 20.000.
Sikap sehari-hari dari Bapak
Zuhirman sangat menunjukkan bahwa ia selalu mengisi waktu luangnya dengan
kegiatan yang positif, tidak mau waktu terbuang tanpa menghasilkan sesuatu. Sikap
ini sangat lah patut untuk dicontoh karena manusia memang seharusnya selalu
menjalani kehidupan dengan diisi oleh kegiatan yang berguna. Pak Zuhirman pun
dengan ikhlas membangun sekolah yang dibantu oleh masyarakat sekitarnya dan menjadi
guru sekaligus kepala sekolah pada sekolah itu. Saya sangat senang dan bangga
karena masih ada orang yang ikhlas melakukan sesuatu tanpa mengharapkan pujian
ataupun pamrih dari orang lain.
Elvina Dyarosya
1801390656
Tidak ada komentar:
Posting Komentar