Blogger Widgets Ilmu Sosial untuk Psikologi : Filsafat Manusia, Sosiologi, dan Antropologi

Minggu, 04 Januari 2015

Kompas, 26 Desember 2014

Membebaskan Dusun dari Kegelapan
Oleh: VIDELIS JEMALi 


Sudirman 
-                     -             Lahir: Palu, 10 Juni 1973
-                     -             Istri: Zuliana (37) 
-     Anak: 
- Muh Khairul Rizal (7) 
- Afifah (3) 
-     Pendidikan: Diploma III Arsitektur Bangunan Fakultas Teknik Universitas Tadulako (2009)
-     Pekerjaan: Petani kakao 
-     Penghargaan: Penghargaan Energi Prakarsa 2013 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

50 zak semen yang awalnya dipersiapkan untuk membangun rumah permanen dibatalkannya ketika ia teringat akan pikiran yaitu cita-citanya untuk membangun sumber energi.
”Saya pakai semen itu untuk membuat alur air dan bak penampung air dari aliran sungai tersebut. Saya mau bangun PLTM (pembangkit listrik tenaga mikrohidro),” ujar Sudirman di lokasi PLTM miliknya di Dusun Kawerewere, Minggu (14/12).
Tiga hari pertama, Sudirman berkutat sendiri dengan proyek tersebut. Memasuki hari keempat, sejumlah tetangga yang sudah mulai mengetahui maksud kegiatannya mulai turun tangan membantu.
Sekitar pertengahan Maret, kerja keras itu mulai berbuah hasil. Sebuah kincir kayu berdiameter 50 sentimeter mampu menghasilkan listrik yang bisa dipergunakan untuk menerangi empat rumah.
Ia kemudian mengganti kincir berdiameter 50 cm dengan ukuran yang lebih besar, 80 cm. Hasilnya, rumah yang bisa diterangi listrik bertambah, dan sejumlah perlengkapan rumah tangga pun mampu dinyalakan dengan sumber aliran listrik tersebut.
Karena kincir 80 cm itu masih redup, ia mengganti lagi menjadi ukuran 150cm. Sejak kincir ini berputar pada 2005, warga pun berinisiatif menyetor iuran. Dana itu kemudian dipakai untuk operasionalisasi PLTM, terutama membeli komponen dinamo yang harus diganti setiap dua bulan.
Pada 2008, kincir dengan diameter 150 cm itu ia ganti dengan yang berdiameter 3 meter. Kincir itu sampai sekarang masih dipakai. Putaran kincir tersebut menghasilkan 3.000 watt sehingga semua rumah di dusun yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, itu pun dapat diterangi listrik.
Selama 11 tahun sudah pembangkit tersebut bekerja dan hampir tidak pernah mengalami kerusakan berarti. Bahkan, di dusun yang akses masuknya masih berupa jalan tanah ini tidak dikenal istilah ”pemadaman bergilir”.
Bagi Sudirman, membangun PLTM ibarat memanfaatkan anugerah alam. Sungai Meno yang berada di pinggir kampung itu menyimpan potensi yang luar biasa. Tinggal dimodifikasi dengan mengalihkan sebagian airnya ke penampungan, maka aliran sungai itu bisa dipergunakan untuk menggerakkan kincir.
”Saya dan warga dusun butuh listrik. Itu hal yang mengusik saya. Kebetulan saya memiliki sedikit pengetahuan, ya, saya terapkan,” kata suami dari Zuliana (37) ini.
Apa yang dihasilkan Sudirman sejak 2003 tidak terlepas dari sejumlah percobaan yang cukup menguras tabungannya. Akan tetapi, justru dari kegagalan itu ia mampu membangun proyek yang membebaskan sebuah dusun dari ”kegelapan”.
Tidak hanya menerangi Kawerewere, proyek Sudirman sudah dikembangkan di sejumlah dusun pegunungan lain. Di Desa Rantewulu, Kecamatan Kulawi Selatan, 100 rumah tangga menikmati jerih payah Sudirman.
Pergulatan Sudirman saat ini adalah melatih sejumlah anak muda untuk menjaga dan mengembangkan energi murah dan ramah lingkungan tersebut. Sudah ada yang menunjukkan minat, tetapi mereka belum menyikapinya dengan serius.

Saat masyarakat kota sudah mendapatkan kemudahan untuk melakukan segala sesuatu berkat adanya daya listrik, ternyata ada desa yang masih mengalami “kegelapan”. Sehingga kejadian ini membuat Bapak Sudirman menggunakan pengetahuannya untuk memberi penerangan kepada desanya. Walaupun telah sering gagal dalam percobaannya, namun saya salut dengan semangat dan sikap tidak putus asa nya sehingga apa yang telah dikerjakannya membuahkan hasil yang sangat bermanfaat untuk keluarganya maupun masyarakat di lingkungannya.  

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64


1 komentar:

  1. Keberhasilan tidak luput dari kegagalan, sama seperti apa yang dialami oleh Bapak Sudirman. Hingga kini Beliau dapat membuat kincir yang dapat memberikan cahaya kerumah-rumah di desa, karena menerapkan ilmu yang ia punya. Saya sangat berharap sekali khususnya untuk di pedesaan semua akses bisa sama seperti di kota agar tidak ada yang merasa dirugikan atau diistimewakan. Saya senang jika masih ada orang yang peduli akan sesama dan saling membantu seperti Sosok Bapak Sudirman ini :)

    BalasHapus