Kompas, 26 Desember 2014
Membebaskan Dusun dari Kegelapan
Oleh: VIDELIS JEMALi
Sudirman
- - Lahir: Palu, 10 Juni 1973
- - Istri: Zuliana (37)
- Anak:
- Muh Khairul Rizal
(7)
- Afifah (3)
- Pendidikan:
Diploma III Arsitektur Bangunan Fakultas Teknik Universitas Tadulako (2009)
- Pekerjaan: Petani kakao
- Penghargaan:
Penghargaan Energi Prakarsa 2013 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral
50
zak semen yang awalnya dipersiapkan untuk membangun rumah permanen dibatalkannya
ketika ia teringat akan pikiran yaitu cita-citanya untuk membangun sumber
energi.
”Saya
pakai semen itu untuk membuat alur air dan bak penampung air dari aliran sungai
tersebut. Saya mau bangun PLTM (pembangkit listrik tenaga mikrohidro),” ujar
Sudirman di lokasi PLTM miliknya di Dusun Kawerewere, Minggu (14/12).
Tiga
hari pertama, Sudirman berkutat sendiri dengan proyek tersebut. Memasuki hari
keempat, sejumlah tetangga yang sudah mulai mengetahui maksud kegiatannya mulai
turun tangan membantu.
Sekitar
pertengahan Maret, kerja keras itu mulai berbuah hasil. Sebuah kincir kayu
berdiameter 50 sentimeter mampu menghasilkan listrik yang bisa dipergunakan
untuk menerangi empat rumah.
Ia
kemudian mengganti kincir berdiameter 50 cm dengan ukuran yang lebih besar, 80
cm. Hasilnya, rumah yang bisa diterangi listrik bertambah, dan sejumlah
perlengkapan rumah tangga pun mampu dinyalakan dengan sumber aliran listrik
tersebut.
Karena
kincir 80 cm itu masih redup, ia mengganti lagi menjadi ukuran 150cm. Sejak
kincir ini berputar pada 2005, warga pun berinisiatif menyetor iuran. Dana itu
kemudian dipakai untuk operasionalisasi PLTM, terutama membeli komponen dinamo
yang harus diganti setiap dua bulan.
Pada
2008, kincir dengan diameter 150 cm itu ia ganti dengan yang berdiameter 3
meter. Kincir itu sampai sekarang masih dipakai. Putaran kincir tersebut
menghasilkan 3.000 watt sehingga semua rumah di dusun yang berjarak sekitar 60
kilometer dari Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, itu pun dapat diterangi
listrik.
Selama
11 tahun sudah pembangkit tersebut bekerja dan hampir tidak pernah mengalami kerusakan
berarti. Bahkan, di dusun yang akses masuknya masih berupa jalan tanah ini
tidak dikenal istilah ”pemadaman bergilir”.
Bagi
Sudirman, membangun PLTM ibarat memanfaatkan anugerah alam. Sungai Meno yang
berada di pinggir kampung itu menyimpan potensi yang luar biasa. Tinggal
dimodifikasi dengan mengalihkan sebagian airnya ke penampungan, maka aliran
sungai itu bisa dipergunakan untuk menggerakkan kincir.
”Saya
dan warga dusun butuh listrik. Itu hal yang mengusik saya. Kebetulan saya
memiliki sedikit pengetahuan, ya, saya terapkan,” kata suami dari Zuliana (37)
ini.
Apa
yang dihasilkan Sudirman sejak 2003 tidak terlepas dari sejumlah percobaan yang
cukup menguras tabungannya. Akan tetapi, justru dari kegagalan itu ia mampu
membangun proyek yang membebaskan sebuah dusun dari ”kegelapan”.
Tidak
hanya menerangi Kawerewere, proyek Sudirman sudah dikembangkan di sejumlah
dusun pegunungan lain. Di Desa Rantewulu, Kecamatan Kulawi Selatan, 100 rumah
tangga menikmati jerih payah Sudirman.
Pergulatan
Sudirman saat ini adalah melatih sejumlah anak muda untuk menjaga dan
mengembangkan energi murah dan ramah lingkungan tersebut. Sudah ada yang
menunjukkan minat, tetapi mereka belum menyikapinya dengan serius.
Saat masyarakat kota sudah mendapatkan kemudahan untuk
melakukan segala sesuatu berkat adanya daya listrik, ternyata ada desa yang
masih mengalami “kegelapan”. Sehingga kejadian ini membuat Bapak Sudirman
menggunakan pengetahuannya untuk memberi penerangan kepada desanya. Walaupun telah
sering gagal dalam percobaannya, namun saya salut dengan semangat dan sikap
tidak putus asa nya sehingga apa yang telah dikerjakannya membuahkan hasil yang
sangat bermanfaat untuk keluarganya maupun masyarakat di lingkungannya.
Elvina
Dyarosya
1801390656

Keberhasilan tidak luput dari kegagalan, sama seperti apa yang dialami oleh Bapak Sudirman. Hingga kini Beliau dapat membuat kincir yang dapat memberikan cahaya kerumah-rumah di desa, karena menerapkan ilmu yang ia punya. Saya sangat berharap sekali khususnya untuk di pedesaan semua akses bisa sama seperti di kota agar tidak ada yang merasa dirugikan atau diistimewakan. Saya senang jika masih ada orang yang peduli akan sesama dan saling membantu seperti Sosok Bapak Sudirman ini :)
BalasHapus