Blogger Widgets Ilmu Sosial untuk Psikologi : Filsafat Manusia, Sosiologi, dan Antropologi

Minggu, 30 November 2014

Kompas, 28 November 2014

Menggali Tambang Kreativitas dari Jember

Oleh: Susie Berindra 




Dynand Fariz
-         Lahir: Jember, 23 Mei 1963
-         Pendidikan:
- 1979-1984: Seni Rupa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya
- 1996-1999: Beasiswa  Program Combination di Sekolah Mode ESMOD, Jakarta
- 1999: Training Teacher di ESMOD Perancis
-         Karier
- 1985-sekarang: Dosen Program Tata Busana di Unesa, Surabaya
- 1999-sekarang: Pengajar  Pattern Drafting  ESMOD Jakarta 
- 2000-sekarang: Pendiri dan Presiden Jakarta Fashion Carnaval  
- 2006-sekarang: Anggota Indonesian Social Entrepreneur, Ashoka, Washington DC
-         Prestasi
- 1999: Best Costume & Unique Costume ESMOD St Chaterina Day
- 2007: Performing Art di Indonesian Reception Day, Mumbay, India
- 2008: Penghargaan Putra Terbaik Jember 
- 2011: Rancangan Dynand Fariz  meraih Best National Costume di Mr Universe Republik Dominika
- 2014: Rancangan Dynand Fariz meraih Best National Costume Miss International 2014 di Tokyo Jepang

               
Mata Fariz berkaca-kaca saat mendampingi Puteri Indonesia Lingkungan 2014 Elfin Pertiwi yang mengenakan rancangannya kembali dari Tokyo. Padahal, ini bukan kali pertama Fariz meraih prestasi di ajang internasional. Karyanya kerap menang di kontes pemilihan pria tingkat internasional.
Kostum Elfin berwarna emas itu terdiri dari siger (mahkota) dan tapis Lampung. Siger adalah mahkota khas Lampung yang dikenakan pengantin perempuan. Tapis warna merah memperindah penampilan.
Kecakapan dan prestasi ini diraih dengan penuh perjuangan. Nama pengajar Sekolah Mode ESMOD Jakarta ini dikenal luas karena Jember Fashion Carnaval (JFC) ciptaannya.
Setelah lulus dari Jurusan Seni Rupa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya, Fariz menjadi dosen di kampus yang sama. Beberapa tahun kemudian, Fariz memilih menjadi perancang busana dan mendapat beasiswa di Sekolah Mode ESMOD, Jakarta. Sebagai desainer, dia mendirikan Dynand Fariz Center yang membuat pergelaran busana setiap tahun.
Rintisan festival di Jember berasal dari keinginan Fariz membuat hal unik saat Lebaran. Dia mengajak keluarganya memakai kostum unik dengan satu tema untuk berkeliling ke rumah saudara-saudaranya.
Tahun 2002, dia menamakan acara keluarga itu Pekan Mode Dynand Fariz dan muncullah ide membuat JFC. Januari 2003, bersamaan dengan HUT Kota Jember, Fariz membuat pergelaran JFC pertama. Pada Agustus 2003, JFC 2 diselenggarakan dengan mengambil tema Arab, Maroko, India, Tiongkok, dan Jepang. Untuk tahun-tahun berikutnya, JFC rutin digelar pada Agustus.
Sayangnya, acara menarik yang dikemas seperti kemeriahan karnaval di Rio de Janeiro, Brasil, ditentang beberapa pihak, salah satunya DPRD Kota Jember yang mendesak Fariz menghentikan JFC.
Setiap tahun, JFC melibatkan 700 orang, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Mereka yang ingin berpartisipasi bisa mendaftar sebagai talent yang akan dilatih membuat konsep, merancang busana, merias diri, sampai berjalan di catwalk sepanjang 3,7 kilometer.
Di JFC ke-13 bertema ”Triangle”, Fariz melibatkan tujuh provinsi anggota WACI, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Bali. Tema ”Triangle” terbagi beberapa subtema, yaitu Mahabharata, Borobudur, Tambora, Phoenix, dan Wild Deer.
Sejak empat tahun lalu, Fariz mengusung kemeriahan karnaval khas Jember ini ke Jakarta. Akhir pekan ini, 29-30 November, masyarakat Jabodetabek bisa menyaksikan JFC di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam sehari, pertunjukan dalam ruangan ini akan digelar dua kali, pukul 14.00 dan 19.00.
Tahun depan, keinginan Fariz memeluk dunia lebih lama diwujudkan dengan JFC ke-14 yang terbagi tiga bagian, karnaval, pameran, dan konferensi internasional. JFC akan mengundang peserta dari seluruh dunia untuk berkarnaval.

                Kegiatan mengembangkan dan memperkenalkan  apa yang dimiliki Indonesia sehingga dapat dikenal lebih luas oleh negara lain sangatlah diperlukan. Seperti apa yang dilakukan oleh Pak Fariz ini. Dia dapat terkenal pada dunia mode/fashion ini dimulai dari ide-ide kecil namun ia dapat mengembangkannya dengan baik. Walaupun sempat ditentang kegiatannya, ia tidak mudah putus asa. Ia terus mencoba dan telah menanamkan didalam dirinya bahwa ia akan berhasil mencapai apa yang ia inginkan. Sifat tidak putus asa dan terus mencoba ini sangatlah patut dicontoh oleh masyarakat Indonesia agar dapat mencapai apa yang diinginkan oleh pribadi masing-masing.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64



2 komentar:

  1. Setelah membaca blog diatas, saya bangga dengan Bapak Fariz yang mengembangkan karya nya di bidang fashion. Sehingga tidak hanya fashion di negara terkenal saja yang maju, teteapi di negara kita juga sudah mulai berkembang, berkat Bapal Fariz. Jarang sekali ada orang yang mau menjual designnya ke luar negeri, melainkan terpatok di negara sendiri, saya yakin jika ada kemampuan, pasti seseorang mampu mencapai kesuksesannya tersebut (dibantuk juga dengan berusaha dan berdoa). Semoga fashion designer di Indonesia dapat terus berkembang dan mengharumkan nama bangsa Indonesia.

    BalasHapus
  2. Semua orang pasti memiliki potensi yang luar biasa, tergantung bagaimana cara kita untuk mengasah potensi tersebut. Jika ingin berhasil tidak ada kata putus asa dan menyerah. Dari Sosok Bapak Fariz ini kita bisa mencontohnya tidak ada kata putus asa dan semangat untuk mencoba telah membuktikan kepada kita semua bahwa ia telah berhasil mencapai apa yang ia inginkan. Semoga Bapak Fariz ini dapat menjadi contoh untuk kita semua agar terus berusaha semaksimal mungkin.
    Pesan untuk Elvina, sebaiknya awal kalimat ditiap paragraf selalu menjorok kedalam. Terima kasih:)

    BalasHapus