Kompas, 6 November 2014
Berbagi ala ”Preman Super”
Oleh: Dahlia Irawati
Peny
Budi Astuti
-
Lahir: Trenggalek, 9
Desember 1969
-
Pendidikan: SMA
-
Suami: Ahmad Djunaedi
- Anak:
1. Agizta Inez Mindy Aziza
2. Meiliza Djunaedi Adani
3. Febriezka Agilianti
- Pelatihan:
1. Mengikuti Woman Informal Employment Government
Organization di Brasil (2009)
2. ”Workshop” pekerja informal dan pekerja rumahan di
Filipina (2010)
3. ”Workshop” pekerja rumahan di Thailand (2010)
”Apa pun yang kita
miliki, termasuk ilmu dan pengalaman, tidak akan hilang meski dibagi dengan
banyak orang. Justru akan bertambah. Makanya, kami saling berbagi ilmu dan
pengalaman melalui Preman Super ini,” ujar Peny Budi Astuti (45), ibu rumah
tangga asal Plaosan Timur Gang Lori, Kota Malang, Jawa Timur.
Peny adalah ibu rumah tangga, pekerja rumahan, yang
dengan ilmu dan pengalamannya kini mengoordinasi 300-an perempuan rumah tangga
dan pekerja informal untuk berdaya dan mandiri. Mereka bergabung dalam
komunitas ”Preman Super”, yaitu Perempuan Mandiri Sumber Perubahan. Mereka
terdiri dari pemulung, pembuat kue, dan ibu rumah tangga biasa.
Kelompok Preman Super rutin memberikan pelatihan
kepada anggotanya, minimal sebulan sekali, di antaranya pelatihan kerajinan
dari manik-manik, menjahit, membatik, membuat sulam pita, dan membuat sandal.
Aktivitas nyata komunitas yang memberdayakan ini membuat Bank Indonesia
mengucurkan dana untuk pembinaan melalui Program Sosial Bank Indonesia di
Malang. Dengan dana ini, kelompok wiraswasta pemula tersebut memiliki modal
usaha.
Selain menjadi ajang menimba ilmu dan keterampilan,
Preman Super pun menjadi ”pasar” bagi para perempuan untuk memamerkan dan
menjual produk. Minimal sebulan sekali ada rapat bersama para anggota. Dalam
kesempatan rapat inilah, setiap perempuan bisa menunjukkan karyanya. Kini,
komunitas Preman Super sudah memiliki koperasi sendiri. Di sinilah semua
anggota bisa berharap mendapatkan modal usaha.
Saat tiga anaknya beranjak dewasa, rasa sepi mulai
mengisi hari-hari Peny. Itu sebabnya, pada 2007, Peny mulai belajar membuat
kerajinan tangan dari bahan manik-manik, seperti yang diajarkan tetangganya. Tidak
lama, Peny berani membuka kursus gratis membuat manik-manik. Usaha manik-manik
ibu tiga anak ini tersebut terus berkembang.
Februari 2010, Peny memiliki kelompok dampingan
keluarga pemulung di Dinoyo, Kota Malang. Setiap hari, Peny datang ke Dinoyo
untuk masuk dan mengenal perempuan-perempuan pemulung. Butuh waktu setengah
bulan bagi Peny untuk bisa ”berkomunikasi” baik dengan para pemulung yang
cenderung tertutup dengan orang asing itu.
Tahun 2013, kelompok pemulung Dinoyo mulai mampu
menjual produk bumbu masak non-MSG dari bahan rumput sawi langit yang
dikeringkan dan disangrai bersama bawang bombai, bawang putih, dan lain-lain
Kelompok pemulung binaan Peny mungkin yang paling
berat ditangani. Sebab, mereka dibina mulai dari nol hingga mampu berwirausaha.
Dari sekitar 30 pemulung, saat ini hanya tinggal delapan yang tetap jadi
pemulung. Sebanyak 22 perempuan lainnya berusaha lain karena binaan ini.
”Kami berusaha bersama-sama untuk mengubah nasib dan
jadi mandiri. Kami berusaha bersama-sama untuk berdaya,” tutur Peny yang juga
pengusaha manik-manik tersebut.
Masih berpikir jika berbagi akan rugi?
Kegiatan berbagi ilmu secara cuma-cuma
dan gratis yang dilakukan oleh Ibu Peny ini sangatlah mulia dan bermanfaat. Melalui
ilmu yang diberikan, ibu-ibu rumah tangga disekitar tempat tinggalnya yang
tadinya tidak memiliki pekerjaan dapat memiliki perkejaan yang terus berkembang
dan mendapatkan penghasilan dari pekerjaan tersebut.
Elvina Dyarosya
1801390656
LA64

Sosok dari Ibu Peny sangat mulia dan dia peduli dengan ibu-ibu dari berbagai kalangan hingga membuat suatu komunitas yaitu "Preman Super" dan saya setuju bahwa ibu-ibu yang masuk dalam komunitas tersebut bisa mendapat pekerjaan yang layak dengan modal yang telah disediakan.
BalasHapusTerima kasih Elvina atas sosok yang sudah dishare :)
Awalnya saya kaget dengan judul sosok ini yang bertuliskan "Preman Super". Namun setelah saya membacanya, saya merasa takjub karena seorang ibu rumah tangga biasa dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu rumah tangga lainnya yang pastinya akan sangat membantu. Apalagi Ibu Peny memfokuskan komunitas "Preman Super" ini untuk ibu-ibu pemulung dan ia juga tidak memaksakan kehendak ibu-ibu tersebut apabila ingin berhenti memuling atau tidak. Salut!
BalasHapus