Blogger Widgets Ilmu Sosial untuk Psikologi : Filsafat Manusia, Sosiologi, dan Antropologi

Minggu, 04 Januari 2015

Kompas, 2 Januari 2015

Pemain Trompet dari Bogor

Oleh: FX Puniman

Mami Saputra
-        -  Umur: 62 tahun
-        -  Istri: Oom  (57)
-        -  Pendidikan: SD 
-         - Anak: Iman (33 )
             Yayah  (32) 
            Deni(31) 
             Tuti(30)
            Ina(29)
            Ridwan (13)
-           - Prestasi: Awal November 2014, 
            juara I peniup trompet ”nayaga” silat pada Festival Seni Budaya Tradisional Pencak Silat 
Antarprovinsi Se-Indonesia  di Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Walaupun telah diiming-imingi penghasilan sekitar Rp 5 juta untuk sekali tampil sendiri jika mau hijrah ke Singapura, dengan tegas, dia menolak tawaran itu. Dia tetap bertahan di Bogor, walau penghasilannya sekali tampil sekitar Rp 3 juta dibagi 6 orang atau Rp 500.000 per orang.
Itulah sikap Mami Saputra (62), pemain trompet senior yang sohor dari Bogor. Ia juga menjadi pemimpin Seni Gendang Pencak Medal Saluyu Bogor. Pemain trompet kelahiran Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tahun 1952 ini, sudah malang melintang selama 37 tahun di Kota Bogor mengiringi pesilat tanding dan budaya (bukan tanding).
Ia mulai belajar sebagai pemain trompet tahun 1973 pada Soba, seorang pemain trompet asal Jampang Tengah yang beken saat itu. Mami, yang sebelumnya sudah pandai meniup suling itu, menyebutkan, Soba memintanya menekuni trompet saja. Mami menuturkan, dia belajar trompet pada Soba hanya semalam
”Pemain suling banyak, sedangkan pemain trompet sedikit dan peminatnya juga kurang,” kata Mami menirukan ucapan Soba kala itu.
Saat suatu hari ia bermain kerumah Soba, keesokan harinya, dia diajak Soba yang mendapat panggilan main di rumah warga setempat. Soba menilai penampilan perdananya di atas panggung cukup memuaskan. Dari situ kemudian Mami terus diajak guru trompetnya untuk tampil jika ada panggilan pentas.
Suatu hari pada 1977, Mami terkejut ketika dijemput utusan dari seorang guru besar pencak silat di Bogor untuk bergabung dengan Guru Besar Pencak Silat Gugah Warga (PSGW) di Kampung Kebun Manggis, Kota Bogor.
Di grup PSGW, Mami terus meningkatkan kemampuannya meniup trompet. Dan, di Kota Bogor inilah akhirnya Mami, yang juga dibimbing Guru Besar PSGW, mulai dikenal sebagai pemain trompet yang andal.
Mami, yang cacat kaki kanannya sejak usia 12 tahun sehingga kalau berjalan harus ditopang dengan tongkat, mengatakan, di Kota Bogor kariernya sebagai pemain trompet cukup cemerlang. Panggilan perseorangan atau bersama grup PSGW dan grup lainnya cukup banyak. Sebulan bisa mencapai 10 kali panggilan tampil.
Setelah tiga tahun tinggal bersama guru besarnya, Mami kemudian pindah ke Desa Cikaret, Bogor Selatan. Ia tinggal serumah dengan istrinya, Oom. Di rumahnya inilah, sejak tahun 1985, Mami sering didatangi orang dari sejumlah negara yang berniat belajar. Mereka antara lain berasal dari Brunei, Malaysia, Singapura, Belanda, dan Inggris.
Mami juga piawai membuat gendang sejak 1982. Hingga kini, ia sudah membuat 1.000 gendang. Gendang itu dibuat bersama kedua anaknya. Hasil pembuatan gendang ini menjadi penghasilan tambahan untuk krhidupan sehari-hari.
Puncak karier sebagai pemain trompet bagi Mami adalah manakala ia terpilih menjadi nayaga yang mengiringi 20 pesilat dari beberapa negara yang mengikuti Kejuaraan Dunia Pencak Silat di Jakarta pada 1992.
Pada akhir perbincangannya, Mami mengungkapkan keprihatinannya atas kelangkaan pemain trompet saat ini. Untuk mengatasi kelangkaan pemain trompet, Mami mengharapkan pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) setempat melakukan pelatihan bagi yang berminat menjadi pemain trompet. Selain itu, Mami sangat terbuka untuk melatih mereka yang serius ingin menjadi pemain trompet.

            Pemain trompet pada masa kini memang sudah sulit ditemukan. Keinginan masyarakat untuk perduli terhadap budaya Indonesia sudah minim. Saya sangat kagum dengan sikap tidak silau akan harta yang ditunjukkan Bapak Mami ketika dengan tegas menolak untuk pindah ke Singapura dengan bayaran lebih tinggi. Tidak hanya itu, saya pun kagum dengan semangat Bapak Mami yang tinggi dan kemurahan hatinya ketika ada orang lain yang meminta bantuannya untuk mengajarkan bermain trompet ataupun lainnya yang memang dikuasai nya juga.

Elvina Dyarosya
1801390656
LA64

1 komentar:

  1. Membaca sosok ini saya merasa sedih dan bangga. Saya merasakan bangga karena alat musik yang dimainkan olah Bapak Mami Saputra ini sudah menarik perhatian dari luar negeri untuk mencoba belajar, tetapi saya sedih karena kurangnya minat anak muda untuk belajar menggunakan alat musik terompet ini. Semoga masih banyak anak muda yang ingin melestarikan terompet ini agar tetap terjaga kelestariannya dan tidak tertelan oleh zaman:)

    BalasHapus